Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti,
petunjuk jalan ketika engkau tersesat, membiaskan
senyuman sabar ketika engkau berduka, .
memapahmu saat engkau hampir tergelincir
dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu ....
moga hati kita dipertautkan karenaNYa
Semburat jingga magrib telah masuk peraduan, awanpun pekat.
Titik derai hujan mendenting seharian bersimbah ruas jalanan.
Membasuh semua juraian reranting, cabang nan telanjang.
Oh kelam dan legam...sekelam nuraniku senja ini.
Reynoldku yang renta masih mampu mengayuh, menulusuri jalanan
memerangi riuhnya trafik, menuju Brixton, arah Tenggara London.
Mataku nanar kedepan, sedang benakku jauh..melanglang
Tik tik derai hujan terus membanjur si Reynold tanpak henti
hingga memaksa sang window wiper menari nari
" Jadi kita jalan terus....Wardah ?" tanyaku pada sang sahabat.
" Ya teruskan jangan menyerah...harus terus ?" supportnya. Penuh.
Aku menarik napas. Dalam..seakan asa ku terputus..
seakan benakku diam terhenti. Buntu.
"Teteh..layar itu sudah dikembangkan, sekali layar berkembang
surut kita berpantang " dia meyakinkanku lagi.
Ohhh..leherku serasa dicekak, padahal seharian kuredam.
"Tapiii.... biduk kita terlalu kecil di Bahari yang luas dan ganas" kutersendat.
Tiba tiba tangisku memecah bersaing dengan deru mesin dan gemercik air
" Biduk kita oleng.. uuuhhh ... diterpa badai hampir kandas" lanjutku
Lalu kulepas kacamataku untuk mengusap bulir bulir airmataku
yang tiba-tiba tumpah meruah.
---
Tergambar dikhayalku... sebuah biduk kecil, kecil sekali..
terapung oleh badai, terlempar oleh topan. Terdampar.
Sang biduk nampak saru oleh kilau teriknya sang mentari,
putih, tersamar oleh percikan pecahan ombak
Si biduk kecil tengah berada di tengah bahari,
oleng terseok seok, tak terkendali.
Seakan tak ada kapitan. Sendiri
" Teteh..... sabar dan tawakallah"
Suara lirih itu kudengar dari belakang mobilku
Kuusap deraian airmataku
Degup dadaku kian mengeras
Antara deru mesin dan binar lampu kendaraan
saling berlomba dengan derai sang airmata
akhirnya kami tiba di Brixton.
Kudekap sahabatku Wardah, erat sekali
Tak terkatakan...
Kecuali degup dadaku
"Be strong teteh.....be sabr" pesannya lagi
"...tempatkan dirimu seperti pohon kelapa yang tinggi
Karena tinggi maka kau rasakan tiupan angin
Makin tinggi makin kau rasakan terpaannya"
"Kalau kau pohon yang rendah dan kecil
kau tak akan merasakan deru dan kerasnya angin"
Aku bisu, termangu dengan analoginya
Ungkapan yang menyejukkan
Akupun meng-iyakan.
Kupeluk lagi, aku pamit.
Ini doanya teteh, ujarnya:
Allahumma Laa shla illaa maa ja'altahu sahlan
wa anta taj'alul hazna idzaa syi'ta sahlan
Ya Allah, Tiada yang mudah selain yang kau mudahkan
dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah
jika Engkau menghendakinya jadi mudah.
(HR. Ibnu Hibban)
London, 8 Maret 2005
note: Reynold itu transporterku atau bemoku yang setia, buatan Perancis, orang sini melafazkannya sebagai Reno