
Kerinduanku terjawab sudah akan kehadiran keranuman sang kuntum
kendati berbenturan dengan denting titik-titk air yang tercurah dari langit, bersimfoni menjadi satu, menembangkan kidung-kidung Musim Semi. Musim untuk menyemi dan menyemai. Lalu ada pergantian.
Kuncup dan kuntum itu pelan merekah, begitu sang tunas nampak saru. 'Blossom' - kata di ensiklopedi, sedang kata lainnya tak ada gantinya. Putih bersih, pucat pias pink dari Apple, Almond dan Cherry Tree. Merah dadu dan putih menyelimuti semua reranting dan cabang terjuntai, berayun...berlomba seakan kontes kecantikan alam. Tergerai...melambai sepanjang jalanan.
Ahh... kalian sungguh penuh pesona.
Seakan mereka semua menyapa dan menyalamiku. Senyum.
Selamat bersemi ria Teteh - kami kembali - kami datang lagi
Kini musim semi, masa dimana semua berganti, teteh.
Kami datang membawa secercah harapan, buatmu
Aku mengangguk senyum..meng-iyakan.

Aku tersentak dari khayal- seakan begitu ceria menyapaku
Hysinth, harumnya begitu memendar - sang Daffodil terhampar
di kehijauan rerumputan. Ohh spring begitu ranum dan harum,
disepanjang jalanan antara Cheesam Avenua, Lovelace Place,
Farringdon Avenue hingga ke Ash Row, gubukku.

Begitu burung Pipit dan Robin tembangkan aku lagu-lagu merdu
Black Bird, si burung hitam cicitnya memecah dikeheningan pagi
membangunkan aku, menyampaikan pesan dan harapan manis
membuatku terbuai oleh mimpi dan harapan sebuah perubahan.
Spring...kusambut dengan ceria.
"Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga bunga yang harum baunya". "Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan"
(Al-Quran: Ar Rachman 12-13)
London, 13 April 2006

