Bukan korban perang..korban atrositi, desa Popilo.
I Have A Dream
Lagu dan karyanya ABBA ini ditembangkan kembali oleh West Life, group dari Irlandia. Lyrics dan rythemnya membuatku tak bisa menolaknya untuk kudengarkan,
I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I'll cross the stream - I have a dream
Seketika airmata berderai, aku jadi teringat atmosfir, suasana hatiku yang begitu teriris perih, sekian tahun lalu, tatkala aku baru mudik dengan 'Love Mission' Misi Cintaku, ke beberapa daerah, menjelajah zona-zona konflik mulai dari Poso, Ternate, Tobelo, Galela hingga bermuara di Ambon, tempat persinggahan terakhir.
Ingin membenarkan ucapan Gus Dur bahwa korban konflik hanya 5 orang sekaligus mencari tahu mengapa Lasykar Jihad berada disana, ingin juga kubuktikan pada komunitas Eropa bahwa bukan karena Indonesia berpenduduk Muslim terbesar didunia, the most populous Muslim in the world, lalu ada pembenaran, justification untuk menghabisi pemeluk agama minoritas.
Ditempat-tempat pengungsian...
Mereka berlomba, mereka berebut perhatianku untuk memaparkan pengalaman dan kesaksiannya, begitu anak-anak korban konflik yang ribuan jumlahnya, yang masih digelayut trauma.
" Aku larut mendengar paparan salah seorang saksi hidup, menyampaikan kesaksikannya pada konflik di Ambon. Bagaiamana seorang suami dipaksa untuk menyaksikan istrinya diperkosa beramai-ramai, lalu dibunuh didepan matanya" kurasakan sesak napasku, sengal, mendengar ini.
Atau ibu-ibu menyaksikan anak lelakinya, suami, mertua lelaki, ipar direnggut nyawanya, atau perempuan hamil dicabik-cabik perutnya, atau kepalanya sempat dilingkari parang "ini ibu..lihaaat niih sisanya masih ada" dia menunjukan bekas luka dikepalanya, "Mata saya masih berkunang-kunang ibu" tambahnya lagi. Aku temui mereka, diantara ratusan pengungsi, yang terusir digugusan pulau Seribu.
Gigiku gemeretuk. Mataku memanas, leherku rasa tercekak, serasa ingin aku teriak melengking kelangit, namun kuredam geramku. Seorang dekan, saksi mata meminta maaf akan keterpaksaannya menyampaikan ini. Kuusap airmataku.
Ya Ukhti.... tambahnya lagi " Sejarah itu akan selalu berulang, history will always selfrepeated . Ingat di Spanyol ? Kita membutuhkan 30 tahun untuk membangun sebuah generasi ini, Ukhti... sudah lihat dan saksikan sendiri reruntuhan dari semua gedung dan bangunan, pasar, rumah-rumah dan tak ada yang tersisa, buat kami semua ini tak ada nilai dan harga, tapi ini.. Izzah kami yang terinjak injak , kehormatan diri Muslim dan Islam kami". ujarnya.
Sisa konflik. Kota Ambon, Nopember 2001
Ia tunjukan dadanya, matanya nampak berkaca, memerah, menahan amarah.
Aku menunduk kelantai, begitu mengusik hatiku.
Perjalanan 10 hari itu teramat singkat. benaku terlalu kecil untuk memuat berbagai macam cerita dan kesaksian sebuah tragedi kemanusiaan yang mengerikan, diluar batas imijinasi manusia, yang mengatas namakan Agama dan suku. Sungguh keji!.
Aku kembali ke ibukota. dengan sebongkah hati penuh luka, nyeri dan perih. Hatiku terkoyak... hatiku terluka. Aku kembali ke UK dengan sebongkah hati yang luar biasa cedera. Jiwaku sungguh terganggu. Dirumahku aku terbaring sakit. Dua pekan kemudian aku pulih.
Begitu kebugaran kudapat kembali tiba tiba gairah ghirrohku terpanggil. Pelan kutorehkan dihatiku sebuah tekad dan cita-cita atau impian untuk memulai sebuah charity dari rumah, charity begin at home, aku bangkit.
And my destination makes it worth the while
Pushing through the darkness still another mile
Something good in everything I see
When I know the time is right for me
I'll cross the stream - I have a dream
Poso, Oktober 2001
Ramadhan diambang, impian tertahan...kunanti hingga Eidul Fitri usai. Sahabat Amira, Sonwara, dan Imad, juga Wasima tak henti bertanya hasil perjalanan yang kunamakan 'Misi Cintaku' hingga kami duduk berembuq, disuatu hari Ahad, dibulan Januari 2002.
Lalu bait-bait mulai disusun untuk pembuatan naskah, baik untuk situs, leaflets, untuk berbuat yang yang lebih riil sebagai bukti kasih sayang dan cinta kami kepada mereka, anak-anak korban konflik di pojokan Nusantara yang deritanya terabaikan. Berharap impian itu menjadi sebuah kenyataan...
" I have a dream, a song to sing...dan seterusnya" antara rythm and irama yang mengingatkan akan galaunya sebuah hati, menangisi nasib anak bangsaku, sebagai korban akan keserakahan para pencinta duniya, kekuasaan, harta..namun telah memicuku untuk terus berjalan dan memulai sebuah kerja nyata.
Dan..... kami masih tertatih-tatih...
Yatim didepan Masjid Al-Muhajirun, Popilo, Halmahera, Oktober 2001.
London, 12 Mei 2005
al_shahida@yahoo.com