Kalau aku awan..... sang awan betul- betul kusam dan buram, sukar dikuakan dan ditengarai. Jangankan derai tawa, senyumpun begitu miris terpaksa. Ujian demi ujian yang terlempar yang begitu sangat memasygulkan hati, seakan aku berputar diputaran durjana.
Kalau aku seorang musyafir di padang Sahara..aku terseok seok jalan menyeret terompah yang sudah compang camping.Terik dan kerontang. Gersang. Aku terus menelusuri padang Sahara - dikeluasana yang merentang luas bergelombang tak berbatas.Mengkhayal menggapai sang Oasis.
.
Atau...ibarat buih dilautan kehidupan nan luas, aku tengah terhempas, begitu ringan tak berbobot, mudah terlempar oleh hembusan dan terpaan angin keras lalu pecah. Terpinggirkan. Atau terdampar keras dibatu karang tajam, terjal. Hilang tak berbekas dipinggiran pantai dan terinjak injak oleh pejalan kaki.
***
Gairah ghirrohku tersekap oleh atmosir keji. akan status oriented dan kemasyhuran, tengah menyelimut beberapa pemilik hati. Membuat langkahku tersendat. Baraqah itu itu tengah terbang ke cakrawala, terevaporasi, menggelantung bagai pertikel-partikel es.
Ku tak mampu menyungging senyumku.Gelora cinta yang menggayut untuk yatimku, tertahan oleh selaksa wabah 'status dan position oriented'. Lalu apa hukumnya mendzalimi diatas anak-anak yang terdzalimi?
Yang ada tembang sumbang dari sang unggas 'Sea Gul' penuntut teritorial, prosuduural, struktural yang gaungnya lebih mengudara.. Atau chouvinist itu masih melekat sebagai budaya moyangnya.
Kutengarai. Ahh, kian kusut masai. Tak henti berseliweran dibenakku hingga meluber dibenak dan aku bertanya pada sang gemintang dicakrawal sana, pada dinding, angin, monitor, dimalam-malam sunyi dan entah apalagi.
Nuraniku dilanda galau. Relung rongga dada ini begitu sesak dan pengapnya, seolah aku kehabisan oksigen. Dera, complain, kritik dan menyalahkan sudah menjadi penganan harian bahkan menjadi budaya. Rasa khauf itu tak nampak sebersitpun akan hari pembalasan dari sang yang Lebih Kuasa
" A lonley bridge in Lhoong, Aceh" pushed by Tsunami.
Diujung galau dan risaunya sang hati.. kusadari bahwa ia masih balita. Saat ia lahir, kubiarkan dijamah, dikerubuti bahkan dilepas tanpak batas sehingga setiap mereka merasa memiliki, tidak itu saja mengklaim bahwa diri mereka merasa punya amanah, komit dan tlah banyak jasa. Pathetic.
Everybody were busy, has not time and were not interested. But when something new moved... everybody jumped and liked to climb....then started complaining, critsizing and even humilating, and oh now they claimed they are bla..bla..bla..
Wabah control freak, status oriented tengah mewabah dihati mereka, gaung itu lebih besar ketimbang kerja karena ketiadaan waktu. Echonya dan egonya lebih melangit. Conflict interest, blaming culture sudah kian mengentalnya, puji sanjung klaim dan kritik bahkan humilisasi tak lagi terelakan. Empat tahun berlalu - membiru, tak tahu.
Perjalanan ini masih terlalu jauh. Its a long, long way. aku, kami ada dan berada dipersimpangan jalan...jangan mimpi dan mengkhayal dan menggapai Oasis.
Ya Rabb, pemilik hati, siramilah kerontang dan tandusnya lahan hati mereka dengan curahan hujanmu, sehingga rona itu bisa berganti...jangan biarkan perunggu, logam dan nominal lainnya berubah menjadi panasnya Naar karena terperdaya oleh duniya yang melenakan, membakar tubuh tubuh tak berdaya.
KepadaMu, Ya Rabb, kupanjatkan..
London, 23 Mei 2006