
Di Blue Mosque, Mesjid Biru di Istanbul pada sholat Jumat 2 Juni 2006, airmataku sempat meruah karena lantunan indah dan doa-doa yang menyentuh relung hatiku yang paling dalam.Aku menangis karena Allah. Ku panjatkan doa untuk kedua orang tuaku, anak-anakku tercinta Sarah dan Camilla, untuk kekasihku dan kami berdua, dan masa depan ICR yang belahan jiwaku itu. Dan tentu saja aku menangisi nasib umat Islam yang terporak peranda
'Betul ..engkau, dirimu telah aku masukan dalam dialogku dengan Tuhanku, Allah swt', menyampaikan terima kasih dan syukur dan syukur kita agar kita bisa menyatu dalam bingkai mahligai yang diridoiNya', gumamku.
Cermati julangnya menara, kota seribu menara.
Turkey penuh pesona, Turkey mempesona. Apapun yang kusaksikan membuat nafasku terhela dan dalam. 'Turkey has too many to offer' kataklu pada sahabat Turkish yang dengan setianya menemani kami untuk tour.
Turkey membuatku jadi romantis, puitis. ' Yes I ma feeling very romantic, poetic..but pathetic...'ujarku pada Aaishah sahabat Afghan itu. Di tergelitik tertawa. Why pathetic sis ?', tanyanya. ' Well I have nobody to be romantic with, right now, that is why I will come for honeymon...in the future'. Ah..dia malah terpingkal-pingkal tertawa dengan selorohku.
Wow betapa tidak..hamparan bunga mawar dimana mana, maka kunamakan ' Land of Roses' (konon mawar aslinya dari Damaskus). Iih gila..' tereak-ku pada Samia, dan mungkin aku saja yang paling ribut dan cerewet mengagumi keindahan demi keindahan...seolah aku ini norak dari kampung..oh bukan aku memang terlalu expressive yang appreciative dan teramat obserbvent. Kenapa tidak?
Masjid Biru itu, oh, telah menyaksikan dan menyerap derai airmataku yang mungkin sempat terjatuh dikarpet sutra yang berusia beraba abad - tersaksikan oleh dinding tegel yang berwarna hijau kebiruan'. Aku terharu membiru. Oh, betapa Islam pernah jaya di Turkey dan kini tinggal puing dan kenangan belaka. Keharuan itu menyelimut di asaku yang terdalam, menghadirkan sang airmata.
Blue Mosque, taken 28 May 2006
Masjid Biru di Turki itu kini menjadi khasanah berharga dalam hidupku, hidup kita. Dan nampak para ahli sufi dengan janggut putih nampak simpel dan hambel menapaki hidup, berpasrah diri. untuk sang Khalik dan tak mampunya memerangi kedzaliman didunia ini, lalu ucapnya ' Aku ini tidak ada apa apanya, I am nothing' ujarnya. Waktunya habis untuk berdzikir dan ibadah, menahan lapar dan meredam nafs ego.
Logo resmi miliknya dinasti Usmani, official stamp of Ottomans
Aku ikut memiliki kenangan khusus terhadapnya, walau mungkin belum mampu untuk menjadi pengikutnya, menyingkir dari hirup pikuknya dunia..sedang jerit lapar dari yatim yatim kita belum tererdam tangisnya...
Dan dibawah keagungan kubahnya berukirkan lafadz-lafadz Al-Quran ku mengaduh dan mengeluh hingga sentuhan yang menghadirkan sang airmata atas keharuan dan ketidak berdayaan diriku sebagi hambaNya yang teramat lemah.
The Dome
Beautiful tile at Blue Mosque
" Bisakah kelak, bersamamu, kita dapat kembali berdoa pada masjid indah itu di masa depan ? "engkau bertanya. Maka aku bilang : 'Bisa...bisa' Bahkan kupilih untuk bulan madu kita, di Mesjid Biru, Blue Mosque dengan keindahan seni yang hijau kebiruan, seperti indahnya cinta kita. Kenapa tidak, insya Allah.
Opps..siapa sih kekasihnya si Teteh itu? Ooh.aku kelepasan, sori..ada deeh...dia ada disudut dan pojokan didunia ini, yang bikin orang tidak percaya deh...yang masih kusembunyikan
Sunset di Selat Bosphorus, ISTAMBUL.Indah dan romantis bukan?
Yeep cerita Istambul dengan ribuan minarets/menara dan ratusan Masjidnya yang unik ditambah dengan sisa peradaban, civilization baik jaman Byzantium, lalu Constantinople hingga Romawi dan ditaklukan oleh dinasti Usmani atau Ottomans, istilah internationalnya...hmm mengandung seribu satu cerita dan khasanah yang tak perlu waktu untuk ditulis. Aku kagum, aku terperangah dengan jewels, pricious stones, batu-batu permata dan peninggalan sejarah yang begitu priceless...
Sadly...muslimah dilarang mengenakana jilbab in public place, juga lelaki Muslim dilarang berjenggot di kantor, sekolah dan di uni, harus dilepas, kalau tidak di skors dan kalau bandel yaa di adili??? How come ? Karena atribut itu hanya ' propaganda Islam belaka, penuh muatan politik' ujar temanku yang Turkey. Lalu dimana HAM, demokrasi.. oo.oo mereka senyum getir....itulah Turkey, setidaknya mereka lugas mengakui bahwa 'ini Negara Sekuler...silahkan bikin pelihara menara kalian yang ribuan, masjid dan sholat, pakai jilbab dijalanan , kedai dan restoran tapi...tapi tidak dalam tempat tempat resmi. Alergikah..walau konon penduduknya 99 persen Muslim.
'Anda Malaysia' itu-itu saja kalau aku berpapasan dengan warga Turkey. Aku menggelang kepala, ' no Indonesiiia..' jawabku bangga. 'Ohh, sorry dengna musibah yang menimpa kalian di Jawa..' ucapan simpatik itu disampaikan. Prihatin mereka.
Dari kiri :Ramona (India) Aaishah (Afghan) Nahoko (Jepang), Samia (Turkish) Teteh (Indonesia), dan Nora (Hunggaria) mewakili UK's Dialogue Soceity.
Mereka terkagum kagum menyaksikan rombongan dari UK berjilbab penuh dan terkaget-kaget kalau kami punya kebebasan dan terlindungi. Tentu saja saat kami tour di universitas 'Fatih' yang beken itu, terperangah, tapi kami tidak digiring ke penjara tuuh karena kami hanya tamu..dan hanya tamu yang berani dan boleh pakai jilbab. Jadi ditempatempat umum (baca tempat resmi) dindingnya bermata dan bertelinga untuk jadi seksi melapor, ditunjang dengan media. Begitu tutur mereka. Lucu khan? Maksudku bukan lucu ha..ha..ha tapi aneh dan ganjil.
Itulah Turkey yang menarik, unik, resembles dua budaya barat dana timur, mewarisi beberapa peradaban yang terpisahkan oleh selat Bosphorus yang penuh pesona, dan...aku jatuh cinta dengan Turkey.
Istanbul, 2 Juni 2006