Bencana
besar senantiasa menimbulkan penderitaan tetapi juga empati.
Berkeliling mengunjungi titik-titik terparah dari bencana gempa bumi
berkekuatan 5,9 skala Richter yang mengguncang Daerah Istimewa
Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia, nampak hati nurani umat manusia
menunjukan puncak kekuatan yang nyata. Penderitaan para korban akibat
kehilangan sanak-saudara yang tewas dan ratusan ribu warga lainnya yang
kehilangan tempat tinggal, telah mengundang solidaritas umat manusia
dari pelbagai pojok dunia.
Sikap
solidaritas yang tinggi itu terwujud dari mengalirnya bantuan dari
pelbagai negara. Termasuk yang menjadi tulang punggung solusi setiap
peristiwa bencana adalah sikap tanggap lagi cepat dari pelbagai lembaga
nonpemerintah (NGO). Misalnya, NGO internasional seperti Save The
Children, Unicef, Kuwait Red Cross and Red Crescent, sampai Oxfam, dan
juga NGO Indonesia sendiri, seperti H idayatullah, PKS, DD, PMI serta
jaringan kerja dari ITB dengan Masjid Salman, Daarut Tauhid dll-nya.
Sebagian mereka langsung terjun begitu bencana muncul, terutama di
masa-masa tanggap darurat (emergency). Sementara yang lainnya mematok
strategi untuk terjun pada masa rekonstruksi yang lebih menuntut
kesabaran dan konsistensi.
Saya
sebagai relawan dan pekerja sosial yang berbasis di Inggris terketuk
hati ingin ikut menjadi solusi, telah berkunjung ke daerah bencana
tanggal 18 – 20 Juli 2006. Bersama rekan-rekan kerja yang saya kenal
lewat internet dan lisan yakni Hidayatullah, Daarut Tauhid dan rekan
pribadi seperti mas Bambang yang datang jauh jauh dari Wonogiri,
menemui saya di Bandara Yogyakarta. Dengan mengenakan rompi ICR sebagai
tanda pengenal dan symbol kembanggaan sebgai relawan atau 'Relief
Worker, akhirnya kami bertemu dan dipertemukan oleh kemurahan dan
kebaikan Allah swt.
Menyaksikan
kerusakan dan mendengarkan cerita mengenai fenomena, keajaiban tetap
mengasyikan sambil ikut merasakan betapa dampak positif dan
negatif yang dialami penduduk warga jawa Tengah. Inilah
titik-titik pos yang kami kunjungi:
Rabu, 19 Juli 2006 :
1.
Desa Candi, Sidorejo, Gunung Kidul. Masjid satu-satunya di desa
tersebut runtuh, rata dengan tanah. Warga kini sedang bergotong royong
untuk membangun kembali fasilitas ibadah tersebut.Untuk membangkitkan
semangat penduduk setempat dalam mempertahankan keimanan dan semangat
hidup, telah disumbangkan :
Sebelum
penyerahan pelbagai sarana dilangsungkan acara ramah tamah yang
dihadiri 50 ibu-ibu. Dilaksanakan di bekas reruntukan bangunan masjid,
beratapkan tenda plastik, juga dilangsungkan tausiah dengan topik
meneguhkan sikap sabar dan tawakal dalam menghadapi cobaan hidup. Acara
berlangsung selama 45 menit.
2. Desa Kragilan, Klaten.
Desa
Kragilan merupakan salah satu desa yang mendapat guncangan terberat
pada gempa bumi lalu. Posko Hidayatullah bekerja sama dengan Altar,
sebuah paguyuban/jaringan kerja para relawan yang independen dari
Bandung telah berada di desa ini sejak kejadian gempa. Mereka adalah
gabungan mahasiswa/i dari Bandung yang juga terdiri dari relawan/wati
dari Daarut Tauhiid, Masjid Salman. Mereka peduli dan fokus pada anak
anak yang berjumlah sampai + 50 anak dari usia 3 – 10 tahun.
Sejumlah
mainan edukatif berupa crayon, buku gambar, outdoor toys (skipping
rope, raket dan sejenisnya), puzzles dan biskuit bergizi, diserahkan
untuk anak-anak yang berjumlah sekitar 60.
3.
Desa Patuk, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul yang letaknya sangat jauh
dari Yogya karena berada di Gunung Kidul. Di kecamatan ini ada sejumlah
anak yang perlu mendapat perhatian dengan dibawah naungan Hidayatullah
sekitar 110 anak yang menjadi garapan Hidayatullah. Ditemui oleh sdr
Rian, koordinator Posko Hidayatullh telah kami serahkan bantuan untuk
anak-anak berupa biscuit bergizi, permen dan mainan edukatif.
Kesimpulan
Dalam
kondisi dan fasilitas yang amat terbatas Hidayatullah telah dengan
penuh dedikasi, kesungguhan dan semangat yang tinggi terus bekerja
dengan tidak mengenal lelah menunjukan kepedulian dan tanggung jawab,
yang tidak hanya untuk masa kini namun untuk masa yang akan datang.
Kegiatan
TPA, counselling, hiburan, khitanan massal, pencukuran rambut dan
bahkan pengobatan gratis telah dan tengah dilaksanakan disamping
kegiatan mengaji di TPA dan membangun semangat ber-Ilsam telah di
ditanamkan kepada para korban gempa bumi.
Kunjungan
ini baru merupakan sikap empati atas bencana yang menimpa saudara kita.
Problem seperti traumatis, tidak adanya bantuan yang bisa diandalkan
dari pemerintah sementara kerusakan total baik secara materi, fisik dan
mental menunggu uluran tangan dari para dermawan.
Saat
ini adalah merupakan tahap pemulihan (recovery), yang sedang dan akan
dilakukan oleh LSM-LSM setempat berupa pemulihan atau medium term
project untuk 6 hingga 12 bulan ke depan.
Pembangunan
kembali sarana fisik yang mengalami kerusakan, konsolidasi kegiatan
yang lebih sistematis, terarah dan sampai kepada pemulihan total
terutama edukasi untuk anak anak.
Bekerja
sama dengan Hidayatullah, sebagai calon mitra kerja kami, kedepan,
program untuk pemulihan baik secara mental berupa memulihkan trauma
serta pendidikan masa depan anak-anak adalah fokus utama kami mengingat
bahwa anak-anak adalah merupakan korban yang paling rentan pada setiap
bencana baik bencana alam, perang dan konflik.
Kepada
rekan rekan kami di Yogyakarta, Mas Syamsul Maarif dan Mas Aris, saya
haturkan terima kasih atas kesediaannya untuk menemani kami dalam
perjalanan menemui para korban baik ibu-ibu, anak-anak hingga ke Gunung
Kidul yang begitu panas, gersang dan berdebu.
Semoga semua langkah,
deru mesin dan debu yang berterbangan menjadi kesaksian, catatan di
akhirat nanti untuk kesungguhan dan kerja keras anda semua.
Sleman, 20 Juli 2005
Dirangkum oleh : Teteh dan Bambang Haryanto