alshahida

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Friday, June 22, 2007
Kegagalan

Kegagalan adalah guru yang terbaik. Belajar dari kegagalan. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kegagalan adalah batu loncatan....
 
 
Waktu yang tersia-sia
'Waktu..oh waktu  begitu cepatnya engkau terbang menerawang, ditelan gumpalan awan, lenyap, dilahap atmosfir, seakan pergi tanpa makna tak menghasilkan apa-apa kecuali menyisakan  selaksa penyesalan dan menyalahkan diri'.  Begitu  ujar sebuah hati disaat kita mengalami rasa 'down', seakan kita menganggap semua pekerjaan dan upaya kita  mubadzir, kosong, sia-sia lalu  kata-kata 'gagal' berseliweran dibenak. 
 
 
Uuuh rasanya ingin saja teriak melengking kelangit sekuat raga, atau membenturkan kepala kedinding sekeras mungkin. Tapi apakah teriakan ini akan melerai rasa masygul, apakah benturan kepala didinding akan meringankan beban dikepala?
 
 
Menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam adalah pekerjaan yang termudah yang kini sudah terpatri menjadi  blaming game, sementara membenarkan dan membela diri  adalah cara yang paling smart, agar kita terlepas dari kesalahan dan dosa. Yang pasti hal ini akan memperparah keadaan dan tetap tidak akan menyelesaikan masalah
 
 
Sahabat yang setia dan suportif
Aku tengah gundah. Sangat gundah, ketika tiba-tiba telephone berdering. Dia salah seorang sahabat setiaku Aqsa, seorang farmasist asal Pakistan , dengan suara yang menyejukkan, ia  mencoba meredamku,  'Sis tidak ada kata-kata 'kegagalan', ok? 'No, failure!,  Yang ada 'sukses yang tertunda'.  Aqsa sama sekali tidak menyetujui adanya istilah gagal atau kegagalan, tambahnya lagi, 'It is not your own fault, anyway, your people surround you was stopping you', tambahnya lagi mengukuhkan.
 
 
Ia sangat mengenal tone suaraku tatkala aku tengah galau ataupun ceria. 'Come on sis you will be alright', ia berpesan diakhir percakapan.  Ia memang paling pandai melipur.
 
 
Lain dengan Wardah ia mengatakan bahwa Allah akan selalu menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai dan sukai, ujarnya. 'Maksudmu gimana sih? tanyaku.. 'Membantu dan mengurus anak yatim itu itu pekerjaan yang engkau sukai, jadi Allah mengujimu, apakah yang kita kerjakan itu betul-betul karena Allah mencari  cari ridho Allah atau selainnya? Ya tentu saja Allah akan menguji kita', ujarnya meyakinkanku.
 
 
Sedang Anisa beranalogi ' Kalau ia sebuah kapal atau perahu, sebelum ia maju dan meluncur, ombak besar dan angin kencang itu tengah menghambat perahumu. Jadi sis..kayanya harus kapalmu harus tenggelam dulu, baru nanti muncul lagi. Jadi aku tidak setuju dengan istilah gagal.  Kendala dan kesalahan yang kita lewati untuk  memacu supaya kita belajar dari kekeliruan dan kesalahan untuk dijadikan pelajaran. ' Your are not failed my dear!, ia nampak begitu matang padahal usianya masih cukup muda.
 
 
Aku membenarkan semua pendapat mereka sambil  benak mulai menelusuri dan merunut 'Dimana sih salahnya, lalu bagaimana ini bisa terjadi?' dua kata inipun mendera diriku.  Tiba-tiba terbayang kembali disaat membaca semua email dan catatan harian 'dairy'yang besar itu,  bagai sebuah film cerita yang diflash back, terus dan terus kebelakang.  Sayangnya, ini bukan  ' a success story' cerita sebuah keberhasilan, tapi cerita-cerita  keterpurukan.  Sangat  menyebalkan, tidak itu saja malah membuat darahku bergolak. Akhirnya kututup silayar monitor.
 
 
Otakku berputar lagi bagai korsel dari kiri kekanan dan sebaliknya akhirnya aku menyimpulkan bahwa ini  sebuah kegagalan. Gagal. Gagal secara profesi dan gagal menurut syariah. Pen. Full stop! Aku gemes dan geram, frustrasi dan sebel. Bagaimana tidak, karena aku betul-betul dijerat dengan sebuah sistim gila yang dikemasnya dengan paket profesional, sok mengikuti prosudur bahkan menyalah gunakan agama.
 
 
"Okelah...aku gagal, kita gagal, kita semua gagal dalam melakukan pekerjaan secara profesional, menjalankan amanah',  aku jujur mengakui. Sambil mencoba menengarai kekusutan benang yang masai ini, jujur, mengakui kekurangan diri yang tentu tidak mudah kita lakukan. Kenapa? Karena ego kita yang kental itu. 
 
 
Sambil mengingat berbagai petuah dari semua pihak membanjiri benakku, datang silih berganti dengan ungkapan yang klasik untuk bersabar. 'Yaaa, apalagi kalau bukan bersabar tentunya, ujarku rada ketus. Dari selusin masukan  pendapat, maka lengkaplah sudah koleksiku untuk dijadikan sebuah kesimpulan, bahwa ini memang bukan sebuah kegagalan tapi sebuah sukses yang tertunda.
 
 
Kiat kiat meraih sukses 
Kalau kiat-kiat tentang bagaimana meraih sukses,  bagaimana memotivasi diri mencapai target entah itu untuk business, membina karier atau bagaimana hidup bahagia',   sepertinya mudah didapat. Kalau kita mau mencarinya banyak bertebaran di situs-situs, lewat google atau dari para pakar managemen. Tapi kiat-kiat untuk menyikapi kegagalan, atau betapa sakit dan frustrasinya dikala kita mengalami kegagalan, belum dan jarang kudapat.
 
 
Aku mencoba memetakan akar permasalahan baik secara profesional, business strategi atau yang terkait dengan kebersihan hati, kelurusan niat, akhirnya aku bisa menarik satu garis kesimpulan, bahwa ini masalah ego belaka. 'Ego trip' ujar Ronny', pensiunan pebusiness yang kaya raya itu.
 
 
Kian hari keburaman itu mulai terkuak, kekusutan benang yang ruwet mulai nampak pula. Pintaku kepada Tuhanku ' Ya Allah tunjukkan Kebesaran dan KekuasaanMu, bahwa Engkau memang 'Al-Karim' itu saja. Perubahan sikap yang dulu timid (takut,segan, tidak tegas), tenggang rasa yang berlebihan mulai memudar. Sebaliknya kini telah membuahkan sebuah sikap lain.  " Aku,  tentu saja aku tidak akan mundur, 'No way' kataku tegas dan tegar.
 
 
Aku setuju dengan pendapat Charles Swindol yang mengatakan bahwa seseorang yang sukses bukanlah mereka yang mudah mundur dan takut gagal, juga bukan orang yang tidak pernah gagal. Aku memang tambah gigih bahkan tambah tegar dan bersemangat.
 
 
Kalau Abraham LincolnJohn Kennedy, Thomas Edison bahkan Columbus dan serentetan nama-nama yang jagoan dalam hal kegagalan, masak sih aku mesti mundur, kataku.  Setidaknya pengalaman mereka bisa membangkitkan aku untuk jalan terus.  Aku bersikukuh untuk lanjut, rasa determenasi itu kian menguat, aku tidak akan menyerah dan kapok!
 
 
Kegigihan dan keuletan
'Kamu tuh memang punya jiwa nekad, teh' ujar salah seorang sahabat. Ya, memang kita harus punya  jiwa seperti itu.  Kita harus berbekal sedikit gila , maksudnya 'nekad' barangkali, atau istilah Inggrisnya 'a nut case'  keberanian yang diperhitungkan tentunya. Tanpa itu tidak akan ada yang terjadi dan kita bisa meraihnya.
 
 
Atau..kalau punya keinginan 'ngoyo banget, kudu didapat' , adalagi yang bilang terlalu ambisius, tukang mimpi'. Tentu saja agak kesal juga dicap macam-macam ' gimana kalau kata-kata ngoyo kita ganti dengan ulet atau gigih ketimbang ngoyo, kan terkesan jelek' aku mengelak. Aku tambah yakin bahwa  bahwa kita harus punya sikap 'can do atau bisa dan harus  bisa, sampai kita mentok dipojok, baru kita stop untuk berusaha'.
 
 
Tidak ada yang bisa menggantikan pentingnya  arti kegigihan dan keuletan. Orang dilahirkan dengan bakatpun tanpa kegigihan dan keuletan ia akan tetap mengalami kegagalan. Pendidikan tinggi dengan titel menyandang di pundak juga tidak bisa menjaminnya, sebab banyak orang berpendidikan tinggi tidak bisa mencapai apa-apa kecuali ijazahnya geripis dimakan cendawan  dan waktu, kata banyak orang lho.
 
 
Ternyata kegigihan, keuletan dan tekad yang membara untuk mencapai cita-cita dan dengan segala pengorbanan tentunya lewat  kekalahan demi kekalahan yang berusaha menjegal dan menjatuhkan kita dengan cara yang paling canggih, halus, smart. Sering mereka lupa akan kebesaran Allah bahwa Ia senantiasa menyelipkan 'mata hati, kebenaran' disetiap kita yang pada akhirnya Allah memperlihatkanNya. Hal ini membuat aku tambah yakin bahwa "tidak ada yang bisa menggantikan kegigihan dan keuletan kita asal semua ini dibungkus dengan kebeningan hati, rasa ikhlas bukan dengan nafsu dan ego kita yang tinggi"
 
 
Aku dan Anisa punya sikap  yang sama, entah karena kita sama-sama lahir di bulan April yang konon katanya bulan April dekat dan ada  pengaruh planit Mars, yang panas itu, Allah saja yang tahu. Ini sebuah kebetulan, kukira, bukan berarti kita percaya pada sang bintang dan planet, tapi  rata-rata orang yang lahir dibulan April yang kutemui; orangnya rada cepat panas, passionate, compassionate,  nyatanya begitu, berjiwa ngoyo alias berani bertualang, dan pantang menyerah. Anda boleh membuktikan.
 
 
Sikap kita disaat mengalami kegagalan
Sikapku, sikap kita? Geram, marah, kecewa, frustrasi, menyesali, menyalahkan, judes, ketus, mudah tersinggung, bisa jadi mau menang sendiri, tapi adikku yang bijak bilang:
' Teteh  jangan lupa dengan Rukun iman kita yang ke enam kita yaitu Takdir',  tegur Efi sahabatku di Manchester, kita semua tahu tentang ini tapi tidak memahami soal takdir.
 
 
Banyak diantara kita yang tidak tahu bagaimana menyikapi disaat kita mengalami kegagalan. Ini merupakan bagian dari sunatullah' tambahnya.  "Semua ini terjadi lewat proses teteh... tidak  ujug-ujug terjadi' ujarnya. Aku dengarkan sambil kucatat pesannya yang ia sampaikan lewat  telefon disuatu week-end sambil dipahami maknanya, yakni: "Artinya : Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya" [Al-An'am : 149]
 
 
Lalu..' tambahnaya lagi, ".. kita harus betul betul memahami soal takdir ini, bahwa Allah sudah menuliskan semuanya, artinya upaya dan usaha kita yang dinilai olehNya dan tatkala kegagalan  terjadi (menurut kita) bukan berarti kita menyerah bahkan kita harus menyadari akan adanya takdir  yang lain, yakni dari  satu takdir ke takdir berikutnya. Artinya apapun yg terjadi yang kalau menurut kita adalah kegagalan, tapi tidak berarti dunia berakhir, kiamat, begitu kata Efi.
 
 
'Teteh ingat ya kita harus melihat  kegagalan sebagai sebuah ujian,  yang jelas hikmahnya untuk menghapus dosa kita,  karena dengan kegagalan ini kita diminta untuk makin sabar, kita harus makin jeli dan harus ridho dengan apapun yang Allah takdirkan. Sama satu lagi apakah kerja amal kita menyusut disaaat kita diuji,  atau dipuji bahkan dicerca. Tapi kalau niatnya mencari ridho Allah mestinya  jalan terus.
 
 
'Jadi…. gagal atau sukses bukan pokok persoalannya, bukan hasilnya yang kita lihat tapi niat dan usaha kita, dan apakah niat kita itu ikhlas atau riya, ingin dilihat orang?', sambil ia menambahkan apakah yang kita lakukan sesuai dengan syariat Islam.
 
 
Ketika kutanyakan tentang pekerjaan amal lewat jama'ah atau organisasi, maka responnya seperti ini:
 
 
" Adapun kaitannya dengan ujian yang dialami oleh sebuah jama'ah atau organisasi,  kita diminta untuk melihat dengan jeli dan bening untuk  memilah dan memilih kembali orang-orang yang  ihkhlas, tentu kita bisa membacanya dengan mata hati kita" tambahnya lagi.  'Apalagi kalau sudah ada klaim-klaim macam macam Teh, justru jangan-jangan ini yang menjadikan kendala dan penyebab lalu Allah menakdirkan seperti ini'.
 
 
"Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya, misalnya karena dia pekerjaan ini jadi beres atau  ide ini datangnya dari dia atau karena dia banyak dana masuk dsb dsbnya" tambahnya lagi.  Kata-kata yang terakhir ini membuat aku diam tercenung karena justru inilah yang terjadi yakni 'claim, claim' yang membuat kita tersasar, tak ubahnya bak semut hitam yang tengah merayap dibatu yang hitam kelam, ditengah malam. Syirik yang samar-samar.
 
 
Sukses dan Gagal
Kata beberapa pakar mengatakan bahwa sukses dan gagal memiliki perbedaan yang tipis. Aku sendiri tidak bisa membedakan apa itu sukses dan gagal sementara beberapa orang mengatakan bahwa tidak ada orang yang gagal didunia ini, yang ada hanyalah orang cepat menyerah'. Sedang kata-kata  'menyerah' merupakan sebuah pantangan buat diriku. Walau aku dan kita sering direpotkan oleh pikiran kita dengan kegagalan dan kekalahan masa lalu apalagi sampai membuat diri kita  trauma dan jera.
 
 
Yang pasti kegagalan dan kekalahan yang kualami yang harus kulewati dengan pahit dan pedih itu telah menjadi sebuah energi positif dan kekuatan yang baru, pengalaman yang mahal harganya yang tidak bisa kita  pelajari lewat kuliah atau bisa dibeli dan yang pasti untuk memperbaiki diri kedepan, tentunya.
 
 
Untuk merealisasikan cita-cita luhur kita hanya perlu memiliki tujuan yang jelas, persistens, konsisten dan determinasi adalah modalnya untuk mencapai tujuan tersebut.
 
 
Bagaimana  halnya dengan anda? Tentu anda pernah mengalami kegagalan entah itu kegagalan meraih titel saat studi, kegagalan bercinta, berumah tangga, berkarir atau berbusiness? Tercampakah anda? Terpuruk, terpukul dan meringkuk dirumah  atau anda lebih bergairah dan menata semangat kembali untuk kedepan  dengan serangkaian kesalahan dan kegagalan sebagai pelajaran dan hikmah? (Al Shahida)
 
 
Catatan Pahit dimusim Spring dua ribu tujuh
 
London, 21 Juni 2007
 

Posted at 01:45 am by alshahida
Comments (2)  

Previous Page Next Page