Kalau Abraham Lincoln, John Kennedy, Thomas Edison bahkan Columbus dan serentetan nama-nama yang jagoan dalam hal kegagalan, masak sih aku mesti mundur, kataku. Setidaknya pengalaman mereka bisa membangkitkan aku untuk jalan terus. Aku bersikukuh untuk lanjut, rasa determenasi itu kian menguat, aku tidak akan menyerah dan kapok!
Kegigihan dan keuletan
'Kamu tuh memang punya jiwa nekad, teh' ujar salah seorang sahabat. Ya, memang kita harus punya jiwa seperti itu. Kita harus berbekal sedikit gila , maksudnya 'nekad' barangkali, atau istilah Inggrisnya 'a nut case' keberanian yang diperhitungkan tentunya. Tanpa itu tidak akan ada yang terjadi dan kita bisa meraihnya.
Atau..kalau punya keinginan 'ngoyo banget, kudu didapat' , adalagi yang bilang terlalu ambisius, tukang mimpi'. Tentu saja agak kesal juga dicap macam-macam ' gimana kalau kata-kata ngoyo kita ganti dengan ulet atau gigih ketimbang ngoyo, kan terkesan jelek' aku mengelak. Aku tambah yakin bahwa bahwa kita harus punya sikap 'can do atau bisa dan harus bisa, sampai kita mentok dipojok, baru kita stop untuk berusaha'.
Tidak ada yang bisa menggantikan pentingnya arti kegigihan dan keuletan. Orang dilahirkan dengan bakatpun tanpa kegigihan dan keuletan ia akan tetap mengalami kegagalan. Pendidikan tinggi dengan titel menyandang di pundak juga tidak bisa menjaminnya, sebab banyak orang berpendidikan tinggi tidak bisa mencapai apa-apa kecuali ijazahnya geripis dimakan cendawan dan waktu, kata banyak orang lho.
Ternyata kegigihan, keuletan dan tekad yang membara untuk mencapai cita-cita dan dengan segala pengorbanan tentunya lewat kekalahan demi kekalahan yang berusaha menjegal dan menjatuhkan kita dengan cara yang paling canggih, halus, smart. Sering mereka lupa akan kebesaran Allah bahwa Ia senantiasa menyelipkan 'mata hati, kebenaran' disetiap kita yang pada akhirnya Allah memperlihatkanNya. Hal ini membuat aku tambah yakin bahwa "tidak ada yang bisa menggantikan kegigihan dan keuletan kita asal semua ini dibungkus dengan kebeningan hati, rasa ikhlas bukan dengan nafsu dan ego kita yang tinggi"
Aku dan Anisa punya sikap yang sama, entah karena kita sama-sama lahir di bulan April yang konon katanya bulan April dekat dan ada pengaruh planit Mars, yang panas itu, Allah saja yang tahu. Ini sebuah kebetulan, kukira, bukan berarti kita percaya pada sang bintang dan planet, tapi rata-rata orang yang lahir dibulan April yang kutemui; orangnya rada cepat panas, passionate, compassionate, nyatanya begitu, berjiwa ngoyo alias berani bertualang, dan pantang menyerah. Anda boleh membuktikan.
Sikap kita disaat mengalami kegagalan
Sikapku, sikap kita? Geram, marah, kecewa, frustrasi, menyesali, menyalahkan, judes, ketus, mudah tersinggung, bisa jadi mau menang sendiri, tapi adikku yang bijak bilang:
' Teteh jangan lupa dengan Rukun iman kita yang ke enam kita yaitu Takdir', tegur Efi sahabatku di Manchester, kita semua tahu tentang ini tapi tidak memahami soal takdir.
Banyak diantara kita yang tidak tahu bagaimana menyikapi disaat kita mengalami kegagalan. Ini merupakan bagian dari sunatullah' tambahnya. "Semua ini terjadi lewat proses teteh... tidak ujug-ujug terjadi' ujarnya. Aku dengarkan sambil kucatat pesannya yang ia sampaikan lewat telefon disuatu week-end sambil dipahami maknanya, yakni: "Artinya : Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya" [Al-An'am : 149]
Lalu..' tambahnaya lagi, ".. kita harus betul betul memahami soal takdir ini, bahwa Allah sudah menuliskan semuanya, artinya upaya dan usaha kita yang dinilai olehNya dan tatkala kegagalan terjadi (menurut kita) bukan berarti kita menyerah bahkan kita harus menyadari akan adanya takdir yang lain, yakni dari satu takdir ke takdir berikutnya. Artinya apapun yg terjadi yang kalau menurut kita adalah kegagalan, tapi tidak berarti dunia berakhir, kiamat, begitu kata Efi.
'Teteh ingat ya kita harus melihat kegagalan sebagai sebuah ujian, yang jelas hikmahnya untuk menghapus dosa kita, karena dengan kegagalan ini kita diminta untuk makin sabar, kita harus makin jeli dan harus ridho dengan apapun yang Allah takdirkan. Sama satu lagi apakah kerja amal kita menyusut disaaat kita diuji, atau dipuji bahkan dicerca. Tapi kalau niatnya mencari ridho Allah mestinya jalan terus.
'Jadi…. gagal atau sukses bukan pokok persoalannya, bukan hasilnya yang kita lihat tapi niat dan usaha kita, dan apakah niat kita itu ikhlas atau riya, ingin dilihat orang?', sambil ia menambahkan apakah yang kita lakukan sesuai dengan syariat Islam.
Ketika kutanyakan tentang pekerjaan amal lewat jama'ah atau organisasi, maka responnya seperti ini:
" Adapun kaitannya dengan ujian yang dialami oleh sebuah jama'ah atau organisasi, kita diminta untuk melihat dengan jeli dan bening untuk memilah dan memilih kembali orang-orang yang ihkhlas, tentu kita bisa membacanya dengan mata hati kita" tambahnya lagi. 'Apalagi kalau sudah ada klaim-klaim macam macam Teh, justru jangan-jangan ini yang menjadikan kendala dan penyebab lalu Allah menakdirkan seperti ini'.
"Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya, misalnya karena dia pekerjaan ini jadi beres atau ide ini datangnya dari dia atau karena dia banyak dana masuk dsb dsbnya" tambahnya lagi. Kata-kata yang terakhir ini membuat aku diam tercenung karena justru inilah yang terjadi yakni 'claim, claim' yang membuat kita tersasar, tak ubahnya bak semut hitam yang tengah merayap dibatu yang hitam kelam, ditengah malam. Syirik yang samar-samar.
Sukses dan Gagal
Kata beberapa pakar mengatakan bahwa sukses dan gagal memiliki perbedaan yang tipis. Aku sendiri tidak bisa membedakan apa itu sukses dan gagal sementara beberapa orang mengatakan bahwa tidak ada orang yang gagal didunia ini, yang ada hanyalah orang cepat menyerah'. Sedang kata-kata 'menyerah' merupakan sebuah pantangan buat diriku. Walau aku dan kita sering direpotkan oleh pikiran kita dengan kegagalan dan kekalahan masa lalu apalagi sampai membuat diri kita trauma dan jera.
Yang pasti kegagalan dan kekalahan yang kualami yang harus kulewati dengan pahit dan pedih itu telah menjadi sebuah energi positif dan kekuatan yang baru, pengalaman yang mahal harganya yang tidak bisa kita pelajari lewat kuliah atau bisa dibeli dan yang pasti untuk memperbaiki diri kedepan, tentunya.
Untuk merealisasikan cita-cita luhur kita hanya perlu memiliki tujuan yang jelas, persistens, konsisten dan determinasi adalah modalnya untuk mencapai tujuan tersebut.
Bagaimana halnya dengan anda? Tentu anda pernah mengalami kegagalan entah itu kegagalan meraih titel saat studi, kegagalan bercinta, berumah tangga, berkarir atau berbusiness? Tercampakah anda? Terpuruk, terpukul dan meringkuk dirumah atau anda lebih bergairah dan menata semangat kembali untuk kedepan dengan serangkaian kesalahan dan kegagalan sebagai pelajaran dan hikmah? (Al Shahida)
Catatan Pahit dimusim Spring dua ribu tujuh
London, 21 Juni 2007