
Sebagian mereka diibukota pergi ke mal mal. Antrian begitu panjang dengan kijang kijang berwarna metalik perak atau sedan memasuki arena parkir ITC atau WTC dimana saja. Susunan produk dan barang begitu tinggi di Hypermarket (Swalayan Raksasa) atau Carrefour, hampir menyentuh langit langit. Massive. Dua pusat perbelanjaan yang tengah bersaing siap mengeruk kantong dan dompet Muslim yang tengah menyambut Lebaran.
Mereka sibuk mematut-matutkan pakaian yang berharga mahal. Atau membenahi rumah, mengecet, mengganti gorden atau memesan kue lapis seharga 250 ribu perloyang, Naastar 50 ribu untuk satu plastik bulat.
Atau mereka lebih suka membeli pizza, makan buffet direstorant Jepang seharga 70 ribu perorang, mengganti handphone dengan yang tercanggih buatan Sonny Erricson atau Nokia, vcd lagu terbaru, dan aksesoris mobil. Sementara membiarkan fakir miskin, anak yatim, atau kalau menyantuni hanya pada saat Lebaran saja. Atau mereka tidak mau tahu derita para dhuafa yang masih jadi pengungsi kedinginan dikamp-kamp pengungsian.
Ibu-ibu sibuk mengisi meja tamu dengan berbagai kue kue Lebaran dari Naastar, Putri Salju, Kastangel, kacang bawang, di stoples kristal buatan Chekz, berjejer, tak ketinggalan berbagai manisan...bon-bon buat anak dan ponakan. Belum lagi minuman cola, jus-jus atau berdoos doos minuman aqua siap selalu.
"Parcel...." konon tahun tahun ini digalakan lagi dari senilai 150 ribu hingga sejuta perparcel, dari bawahan untuk atasan atau demi langgengnya hubungan relasi antar pejabat dan pebusines. Sungguh mubadzir bukan ? Karena yang layak menerima parcel adalah yang jelata dan papa..jadi antara logika dan nurani sudah tidak konek.
Bayangkan satu kotak kue Naastar anda bisa membahagiakan anak yatim untuk selembar baju di daerah pengungsian atau satu loyang lapis prunes anda bisa membelikan membahagiakan sekeluarga berupa:
Gula 2kg, mentega 1kg, susu 2 kaleng, 2 botol sirop, dan 1 kaleng kue Khong Ghuan yang semuanya senilai Rp. 80.00, bisa jadi lebih karena kenaikan BBM antara senilai Rp 160.000 atau Rp200.000 sedang sisanya mereka bisa buat ketupat dan opor, semur atau rendang dan sambel ketupat untuk sehari Lebaran dan sekeluarga. Paket ini untuk janda janda di kamp kamp pengungsian baik di Ambon, Ternate, Poso dan mungkin Aceh..
Jangan-jangan kita sudah lupa bahwa masih begitu banyaknya penderitaan di sekitar kita yang lebih parah. Bahkan, mungkin kita sudah malas memikirkannya. Padahal, sebagian dari kita paham betul bahwa dalam setiap harta yang dimiliki terdapat milik orang-orang miskin, orang orang yang jelata nan berkepanjangan.
Bahkan adik dan temanku banyak yang protes dan mengatakan: 'Koq jauh jauh sih mikirin pengungsi didaerah konfik ? Di Jakarta saja begitu banyak orang miskin atau di daerah pedalaman lainnya, yang perlu dibantu. Kenapa musti Aceh, Ambon, Poso dan Maluku ???"
"Lahhh..itu khan tanggung jawab kalian disini, bukan kami yang diluar Indonesia. Tanggung jawab pemerintah setempat atau jatahnya para selebriti dan pejabat. Karena setiap langkah mereka selalu dikejar oleh teve dan media bahwa mereka peduli " mereka terdiam.
"Miskin dan dhuafanya mereka khan biasa saja, menurutku. Kami tahu di Indonesia kemiskinan itu begitu tinggi, kian merambah dari Ujung Sumatra hingga Marauke. Begitu juga yang yatim, tapi yatimnya korban konflik dan musibah tidak sama dengan yang bukan" mereka terdiam, sepertinya argumenku bisa diterima.
Lalu kenapa kami yang jauh, diluar Indonesia tahu derita mereka ? Mungkin doa mereka mampu menerobos ke qalbu kami yang jauh. Wallahu Alam..seperti bang Asro dari Republika meng-analogi-kan seolah kami ini (kami berharap) seperti awan yang jauh tinggi ingin memberikan perlindungan kepada mereka yatim korban konflik.Moga
Kami sempat duduk bersimpuh bersama mereka,bersama anak anak yatim kita, bersama bunda bunda janda dan nenek mereka. Ada satu kenikmatan yang tidak bisa kugambarkan duduk bersama mereka, ada makna tersendiri saat mereka mendapat sapaan kunjungan dari kita. Mereka, anak yatim amat membutuhkan perhatian dan kasih sayang, sedang Rasulullah saw telah banyak memberikan perhatian khusus dengan sabdanya:
" Barang siapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menulisnya kebaikan pada setiap lembar rambut yagn disentuh tangannya ". (Hadith: HR Ahmad, ath-Tabrani, ibn Hibban)
Pesan untuk mereka tidak berlebihan, tidak pula imingan menerawang membuat mereka berkhayal. Agar mereka tetap istiqomah dan sabar dalam menjalani kehidupan yang penuh kesulitan. " Mereka, anak anak yatim mendapat kedudukan tersendiri disis Allah, juga para janda yang masih mempertahankan predikat janda syuhadanya". Kata kata ini sepertinya membuat hati mereka merekah..subhanallah.
***
Sejumput cerita dari Ambon tahun lalu yang membuatku menangis kembali, moga ibu ini ada diantara puluhan janda dimalam itu, adalah cerita seorang janda muallaf yang berhari hari mencari pinjaman untuk merayakan hari LEBARAN didesa Waiheru, Ambon.
Kak Syarifah lupa memberitahukan bahwa ada jatah untuk ibu ini, senilai Rp 150,000 . Ibu ini berhari hari mencari pinjaman untuk sekedar membeli dan menyiapkan penganan untuk hari Lebaran..hingga jam 4 sore hampa tangannya, ia tak mendapat pinjaman.Semua orang menolaknya, jangankan untuk memberikan pinjaman mereka sendiri tak tahu bagaimana merayakan hari Raya itu.
Naah saat teman kita sampai kerumahnya dan menghantarkan hadiah Lebaran ini menangislah sekeluarga, penuh haru, sambil mereka memuji nama Allah serta mengucapkan terimah kasih berulang-ulang kepada para donatur yang melalui tangan-tangan mereka Allah memberikan RizkiNya kepada keluarga ini. (Ibu ini adalah seorang mu'allaf yang keluarga kristennya selalu datang membujuk mereka sekeluarga untuk kembali ke agama semula). Kita doakan selalu agar ibu ini diberikan kekuatan oleh Allah SWT. Amin
Belum lagi ibu ibu yang menjadi kuli mencuci baju untuk beberapa keluarga, tangannya perih nyeri dimalam hari karena kerjanya sebagai kuli mencuci. Tidak ada pilihan lain untuk menutupi dan melanjutkan sekolah anak anak yang yang berjumlah 5 orang.
Ironisnya anak anak pengungsi itu tetap dibebani untuk membayar SPP, biaya transport 60 ribu sebulan..kadang anak-anak tak mampu sekolah karena tidak ada ongkos untuk bayar angkot, mereka malu pula untuk melapor dan meminta bantuan lagi..tahu tahu nama mereka telah dicoret dari daftar. Pedulikah kita, pedulikan mereka ?
Kefakiran seringnya melemparkan mereka jauh dan tidak sedikit di antaranya membuat mereka terpaksa menjalani kekafiran seperti pindah agama demi melepaskan tali kemiskinan yang menjerat puluhan tahun. Lalu kita marah, mencaci maki para missionaris, menyesali betapa tipis dan rapuhnya keimanan para jelata ini. Kita hanya bisa bereaksi dan berlaku reaktif bukan proaktif.
Dari jauh... ingin aku memeluk hangat saudara-saudara kita di tempat-tempat pengungsian, tidak hanya sekedar memberikan harapan dan janji tapi di kongkritkan...lalu kenapa aku melulu memikirkan yatim dan dhuafa korban konflik. Karena mereka sesungguhnya yang paling terdzalimi, haknya direnggut, izzah Islamnya terinjak injak, harga dirinya sebagai manusia tidak ada, jatahnya juga di korup oleh tangan tangan kotor entah mereka yang duduk dikursi pemda atau anggota Dewan.
Luka itu masih menganga dan dalam sekali tapi mereka dipaksakan untuk berdamai, dipaksakan untuk berinteraksi dipasar pasar, diterminal atau dipaksakan dengan sistem 'Jalan Satu Arah, atau One Way System', sehingga dua komunitas tak ada pilihan untuk saling berpapasan.Allahu a'lam bishawab
London, 27 Oktober 2005
al_shahida@yahoo.com