Senin petang 26 Desember saat baru saja kududuk meregangkan tubuh, kufikir ragaku berhak untuk res dan duduk sekejap, sambil menikmati teh panas didepan komputer untuk membaca ulang berita-berita Tsunami dan dialogue di Islamonline. Hari sepertinya pergi dan terbang begitu saja. Kubermuhasabbah. Produktifkah hari ini atau sebaliknya? ...tiba tiba telefon berdering..
" Assalamualaikum Sister kabar baik ya.. sis bisa engga ke studio Islamchannel ? " sang rekan bertanya setengah meminta.
" Ke studio, kapan...? "tanyaku, sambil agak keheranan dengan permintaaan yang sangat mendadak
" Malam ini dan sekarang sis.. acara dimulai jam 8..!" Hoops..aku hampir kepeselek (minumanku hampir salah masuk kesaluran lain karena syok).
"Wiih gila..." fikirku
"Sekarang....malam ini, how? " jawabku. Huuuih... koq mendadak banget. Setengah mangkel campur kesel karena sepertinya aku digampangin, sambil mikir, hhhhmm boleh juga niih karena aku bakalan mengais rejeki, akan ketemui orang-orang yang lama kucari. 'Not bad idea' sambil berharap ada imbalan. Lalu kusetujui dengan persyaratan. Kuberi waktu 20 menit sambil berkemas menyiapkan diri.
Dua puluh menit kemudian telefon berdering kembali. Konfim. Aku kestudio Islamchannel http://www.islamchannel.tv untuk penggalangan dana bagi korban Gempabumi di Pakistan dan 'Qurbany Appeal' dengan HelpingHands salah satu organisasi charity Islam di UK: www.helpinghandsworldwide.com.
Aku tak sempat lagi berkilah dengan rekan ini, kuanggap kondisi mudharat dan kuambil manfaatnya, sambil berfikir positif thinking saja. Lalu apa sih imbalan yang kuharap dari semua ini....? Merajut tali ukhuwah untuk menebar peduli.
***
Matahari sudah masuk peraduan, jalanan gelap dan sunyi karena masih suasana liburan natal. Kukebutlah sang bemo Reynold (itu lho mobil kecil buatan Perancis). Breem... dengan kecepatan lumayan. Kalau polisi melihat pasti aku distopnya. Kecepatan bisa diatur, artinya kalau sepi dikebut tapi kalau ada camera ' speed clontrol' , kecepatan dilambatkan. Kuupayakan bagaimana bisa sampai ditempat dibawah satu jam.
Betul kurang dari satujam tibalah aku di studio dan...wow. sambutan luar biasa, ku lempar si coat, (jas tebal musim dingin), hape dimatikan. Aku diminta langsung keruang studio, dua crew langsung menyematkan loudspeaker di jasku. Kududuk bersanding dengan para trusteenya Helpinghands..ah tentu Yvonne Ridley, sang journalist yang ngetop namanya gara-gara dia mendekam ditahan Taliban yang dicurigai sebagai spionase dari pihak sekutu.
***
Kami bertiga menggalang dana untuk saudara kita di Pakistan, korban bencana Gempabumi...dan seperti biasanyaa para donatur/callers yang antri menyumbang dananya langsung ditelivis (live). Setiap caller menyebutkan nama, nama kota serta menyebutkan jumlah yang didonasikan. Targetnya adalah untuk membangun rumah rumah di daerah daerah terkena gempa. Mengejutkan sungguh. ternyata masyarakat Asia yang bermukim di Inggris begitu kaya dan sangat dermawan, banyak yang menyumbang untuk seharga satu rumah £3000.
Yvonne, didepan pirsawan menyambut dan bertanya tentang kerja kita icr-uk, sebuah organisasi charity untuk anak-anak Indonesia http://www.icruk.org dan kerjasama kita dengan Helpinghands di Aceh. Ia mengingatkan para pirsawan untuk tidak melupakan saudara-saudara kita di Aceh. Karena charity ini fokus kepada anak-anak maka bantuannya tentu melulu untuk santunan anak-anak yatim, untuk keperluan pendidikan dan lainnya.
Duduk distudio bersama Yvvone mengingatkanku setahun lalu kala kita bekerja sama melakukan appeal untuk korban Tsunami. Bagi yang ingin tahu apa siih yang sudah kita kerjakan (walau secuil) untuk anak anak korban Tsunami sila:
Tentanng sosok Yvvone itu..cukup kukagumi akan keberanian dan kenekadannya. Sebagai seorang journalist yang turun langsung untuk meliput berita dan kesaksiannya di medan laga. Tidak itu saja ia berani menentang policynya Bush dan mengatakan yang benar.
Kesaksian Yvvone akan derita dan kesengsaraan rakyat Afghan telah menyentuh nuraninya. Pengalaman masa ia ditahan oleh Taliban meniggalkan kesan tersendiri, membuat ia bersikap lain, bahkan malah jadi berbalik, seiring dengan datangnya nur/petunjuk tentang kebenaran yang pelan pelan menerpa bingkai hatinya.
Namanya tiba tiba mencuat, tiba tiba dia jadi wartawan selebrity. Saat memberikan pengalaman dan kesaksiannya pada perang Afghan di Citycircle...uhh seolah dia seorang pahlawan yang heroik, malam itu ada sekitar 200-an hadir. Sejak itu Yvvone banyak bergaul dengan kalangan kami.
Saat ada kesempatan duduk bersebelahan ditahun 2002 dia sangat terkejut bahwa ternyata di Inggris begitu banyak muslimah yang cendekia. Pada saat demo di Trafalgar Square ia selalu menjadi salah satu orator dikenal setelah Salmah Yaqoob dan Bianca Jagger. Antara kami memang ada kesamaan, tentu. Adapun bukti tentang pernyataan syahadahnya masih simpang siur. Tidak kami persoalkan sambil pertemuan untuk diskusi dan makan bersama kami lakukan cukup intens.
Sesaat dia menghilang dari peredaran kami. Terdengar kabar bekerja di Aljazeera. kami hampir melupakannya, sampai pada suatu malam kami melihatnya di teve tentangnya masuk Islam, Yvvone telah menjadi Muslim. Tak lama terbetik lagi berita bahwa ia keluar dari Aljazira karena ketransparasiannya menyebabakan Aljazeera resah. Akhirnya dia balik kesangkarnya, dirumahnya sendiri ia disambut hangat oleh Muslim di UK dan berbarengan dengan berdirinya Islamchannel, tokh Yvvone bermanfaat bagi kita: http://www.yvonneridley.com/profile.asp
***
Tahun Lalu...
Setahun lalu saat kita daftar ke Islamchannel untuk fundraising Tsunami aku berpapasan dengan seorang wanita, berbaju panjang ala wanita Arab. Kami ber-empat saat itu. Diakhir pembicaraan aku berkomentar macam ini:
'Sis..Im sorry, you remind me of sister Yvvonne, what's your name" tanyaku lugu...tiba tawa meledak terjadi secara spontan. Astaghfirullah apa salahku?
"Sistaaaa...this is sister Yvonne" serempak.
" Oh nooo...... ???". Aku jadi malu tersipu. Bagaimana aku tahu kalau dia adalah Yvvonne? Bagaimana tahu kalau ia telah mengenakan jilbab penuh dan bekerja di Islamchannel? Aku menggelang kepala tak percaya.
Kabar dikoran yang simpang siur itu malah membuat kami ada rasa syak padanya, atau setidaknya kita bersikap lebih hati hati walaupun Yvvone pernah mengeluh bahwa dia mendapatkan perlakuan yang menyakitkan dari koleganya. Ada yang menyuruh balik ke Afghan untuk join jadi Taliban, dan macam macam.
Kami semua cuma bisa angkat tangan dan mengatakan 'Wallahu alam, we dont know'. Suasana saat itu memang sukar diprediksi, kita tidak tahu siapa kawan dan lawan. Ada beberapa kata dan ungkapan yang taboo diucapakan, malah kita jadi sangat paranoid dan untuk lebih waspada dan hati-hati, seolah kami berada dibumi ditakdirkan untuk jadi kambing hitam. Hasbunallah wa ni'mal wakiil
Hari itu Yvvone mengenakan baju panjang ala wanita Arab, longggar. Ahhh Yvvone dari busananya dia telah mengenakan yang di syaratkan oleh syariat Islam, atau dengan busanyanya ia telah meng-isyratkan dirinya sebagai Muslim yang kaffah.' Ia dengar..ia patuhi..wa sami'na wa ato'na'
Akhirnya kupeluk Yvvone, erat sekali dan kuminta maaf atas kekeliruan, lalu kami tukaran nomor telefon. Yvvone menjadi bagian dari Islamchannel yang kerjanya meng-nterview para politisi Inggris termasuk fundraising salah satu keahliannya.
Ada kesan dari pengalaman hajinya tahun lalu yang menyentuh:
Pada saat ia bergegas bersama kerumunana manusai menuju masjidil Haram tiba tiba azan menggema diudara. Semua berlari, saling berdesakan menuju tempat yang sama, memuja Allah..begitu Imam memulai sholatnya tiba-tiba semua berhenti ditempat, diam kaku, seolah semua membeku dan semua mengangkat tangannya 'Allahu Akbar...mematuhi sang imam, disitulah Yvvone tak tahan menitikkan airmatanya:
"Kalau saja kita Ummat Islam bersatu dalam bergerak seperti halnya kita sholat...tentu tidak satupun yang berani mengalahkan kita. Kalau saja kesatuan dan kedisplinan mampu kita tunjukan kedunia luar maka tak satupun yang berani menekan dan mengenyahkan kita dari bumi tempat kita berpijak atau mencoba mendorongnya".
London, 27 Desember 2005
AlShahida