Kemuningnya daffodil, forsythia atau japonika, ungunya crocus dan bluebell, violet dan forget me not, hamparan tulip dipojokan kota...kali ini tak nampa dipelupuk mataku. Musim Semi Dan Tsunami
Kemuningnya daffodil, forsythia atau japonika, ungunya crocus dan bluebell, violet dan forget me not, hamparan tulip dipojokan kota...kali ini tak nampa dipelupuk mataku.
Begitu juga juntaian reranting apel blossom yang putih dengan gurat gurat merah saru, lembut dengan benang sari menyeruak diantara lembar dan helai kelopaknya, atau gumpalan blossomnya buah cherry, putih pink, terayun keberatan, terjuntai, tak urung blossom buah pear seputihbersih salju dililit dedaunan hijau cerah atau hijau kelabunya daun daun palem yang tergerai dipelepahnya...ah semisal kontes kecantikan berarak disepanjang jalanan, dikota dan didesa disetiap musim semi.
Ooh mana cicitnya burung-burung pipit ? Mana tembang dan kidung mereka? Atau teriakan burung seagull yang territorial. Tak kudengar kali ini..lalu kemana mereka ?
Lalu kenapa semua ini sirna dari jenggala hatiku yang biasa memuja dan memuji pada sang Raja Alam. Lalu kenapa kali ini aku tak sempat menakjubi akan kepatuhan flora dan fauna yang taqwa dan patuh akan ketepatan waktu, tanpa membantah dan mengelak kepada perintahNya.
'Ehhh teteh..kami tahu kau tengah galau dan sendu!' sapaan itu singgah dibenakku membuatku tersentak,..kala aku berhenti sementara serpihan sang blossom berhamburan terterpa angin fikiranku menerawang jauh.
Tambahnya lagi: ' Kami tahu teteh...engkau tengah terobsesi oleh luluh lantaknya Aceh sana teteh..lalu kau bisa berbuat apa, kau tak kan mampu, kau kecil?' Uhh aku tersengat.
" Kamipun tahu kau tengah merajut rindu akan bocah bocah korban Tsunami. Kau mencoba menggerai kompleksnya masalah dan kemelut yang tengah terjadi, dan hari harimu cuma mencoba mengingat yatim yatim yang masih jadi ajang berbagai agenda'
'Teteh...kau lupa kami, kau tak pedulikan kami' ' Ya.betul ', aku meng-iyakan..
'Ya Rabb..bagiamana aku bisa jadi puitis, bagaimana aku bisa menikmati kecantikan ciptaanMu sedang sebagian jiwaku kerap mengingat sisa-sisa bencana dan kemelut dinegeriku'.
'Ya Rabb tanah dan pemandangan yang pekat, berbau anyir dan amis dari para mayat menyatu dengan karat karat besi dan seng bahkan semilir sulfur menguap, kerap lewat didepan mata dan hidungku..bagiamana mungkin ya Rab
'Tidak itu saja jiwa jiwa dari korban yang cedera dan jera pada pra dan paska Tsunami serta jiwa jiwa para penguasa yang tengah berseteru memperebutkan dan meributkan donasi untuk dan atas nama bencana ini '.
'Maafkan aku ya Rabb.. kalau aku tengah terobsesi oleh semua musykilah dikehidupan ini, aku tengah mencoba mengurai benang yang semerawut, mencoba memulai sebuah permulaan dari kerusakan total yang tak tahu dari mana memulai '.
'Siapapun boleh tertawa dan memperolok kami akan kecilnya kami ini, namun senantiasalah engakau curahkanlah istiqomah dan ketegaran seperti janjimu ya Rabb bahwa sekecil apapun kerja kami kami cuma mengharap ridhoMu ' .
'Sekali lagi ya Rabb maafkan..kalau aku tengah melupkan kahadiranmu yang sesungguhnya kunanti, jenggala hatiku tengah merantau jauh ke tanah rencong hingga aku melupakanmu'. Sepertinya alam memahfumi gundahnya rasa datarku serta obsessiku kali ini.
Mestinya... Laku aku sering mendera diri sendiri, 'Aku sendiri tak tahu kenapa aku ada disini, kenapa aku duduk disini, sedang mereka mendambakan kehadiranku, seperti juga aku merinukan mereka ? "Kenapa aku tidak bersama mereka duduk bersimpuh menikmati wajah mereka, bertutur dan melerai duka mereka, membelai rambut dan bahu mereka, mengisaratkan cinta, menggantikan ibu ibu mereka, mendongeng dan membesarkan hati hati mereka".
Lalu aku tersentak sadar...'Oya anakku aku dan kami tengah mengisi pundi-pundi hingga penuh lalu kami bawa kenegerimu...dan itulah tugas kami..mengetuk penggalan para pemilik hati yang masih menyisakan asa peduli buat kalian.
Lalu? Tentu saja tugas berat kami adalah mayakinkan bahwa pundi pundi yang mereka isi sampai seratus persen ketanganmu tanpa potongan dan sunatan sana sini.Kami paham kalau syak dan prasangka berlabuh dihati mereka karena budaya pat gulipat tengah melekat atau sebaliknya pat gulipat terjadi karena adanya dana dan sumber daya sap dilempar yang tentu dengan syarat.
Lalu ingin kukatakan 'Bahwa duka laramu mu telah merobek dan meremas relung hati kami, dan mereka tidak sendiri sama seperti dibelahan dian lainnya Afghan , Aljazir, Kosovo, Bosnia, Iraq, Rumania hingga Chechya. Merka tidak tahu kalau kehadiran mereka didunia justru untuk menguji keimanan kami kami ini, malah membuat kami tergerak hingga kami membentuk jamaah, sirkel dan bahkan yayasan.
Anakku jangan kau sesali akan keyatimanmu namun bersyukurlah justru karena kehadiranmu, kami menyandarkan harapan untuk bisa bersama Rsasulullah ke emperan syurga dan bahwa kehadiran kalian memang Allah ciptakan hingga kiamat enkau pembawa rakhmat untuk kami kami ini.
Lalu aku tersentak sadar...'Oya anakku aku dan kami tengah mengisi pundi-pundi hinga penuh lalu kami bawa dan itulkah memang peran dan tugas kami'
Ahhh hati kami jadi kecut..mungkin hanya emperannyapun jadilah - kerna kadang hati kami terpoles oleh duniya oleh bisik syahdu yang kadang kami tergelincir oleh lolosnya hembusan asyik menggoda. Tapi anakku syurga itu..tidak semudah dan semurah yang seperti Rasulullah isaratkan dengan kedua jarinya, tidak...terlalu mahal
Teramat mahal harganya dan teramat berat ujian dan cobaan bahkan kami bisa jadi berseteru dan bahkan berpisah karena engkau.Ini tidak mustahil anakku.
Anakku doamulah yang kunanti agar kami kami tetap teguh dan tegar untuk sanggup menerjang dan menerjal jurang dan karan yang tajam.
Maafkan ya Raab akan kealpaaanku kali ini ku tak mampu jadi pujangga memuji dan memuja serta pendaran keranuman wangimu .
London 24 April 2005
Begitu juga juntaian reranting apel blossom yang putih dengan gurat gurat merah saru, lembut dengan benang sari menyeruak diantara lembar dan helai kelopaknya, atau gumpalan blossomnya buah cherry, putih pink, terayun keberatan, terjuntai, tak urung blossom buah pear seputihbersih salju dililit dedaunan hijau cerah atau hijau kelabunya daun daun palem yang tergerai dipelepahnya...ah semisal kontes kecantikan berarak disepanjang jalanan, dikota dan didesa disetiap musim semi.
Ooh mana cicitnya burung-burung pipit ? Mana tembang dan kidung mereka? Atau teriakan burung seagull yang territorial. Tak kudengar kali ini..lalu kemana mereka ?
Lalu kenapa semua ini sirna dari jenggala hatiku yang biasa memuja dan memuji pada sang Raja Alam. Lalu kenapa kali ini aku tak sempat menakjubi akan kepatuhan flora dan fauna yang taqwa dan patuh akan ketepatan waktu, tanpa membantah dan mengelak kepada perintahNya.
'Ehhh teteh..kami tahu kau tengah galau dan sendu!' sapaan itu singgah dibenakku membuatku tersentak,..kala aku berhenti sementara serpihan sang blossom berhamburan terterpa angin fikiranku menerawang jauh.
Tambahnya lagi: ' Kami tahu teteh...engkau tengah terobsesi oleh luluh lantaknya Aceh sana teteh..lalu kau bisa berbuat apa, kau tak kan mampu, kau kecil?' Uhh aku tersengat.
" Kamipun tahu kau tengah merajut rindu akan bocah bocah korban Tsunami. Kau mencoba menggerai kompleksnya masalah dan kemelut yang tengah terjadi, dan hari harimu cuma mencoba mengingat yatim yatim yang masih jadi ajang berbagai agenda'
'Teteh...kau lupa kami, kau tak pedulikan kami' ' Ya.betul ', aku meng-iyakan..
'Ya Rabb..bagiamana aku bisa jadi puitis, bagaimana aku bisa menikmati kecantikan ciptaanMu sedang sebagian jiwaku kerap mengingat sisa-sisa bencana dan kemelut dinegeriku'.
'Ya Rabb tanah dan pemandangan yang pekat, berbau anyir dan amis dari para mayat menyatu dengan karat karat besi dan seng bahkan semilir sulfur menguap, kerap lewat didepan mata dan hidungku..bagiamana mungkin ya Rab.
'Tidak itu saja jiwa jiwa dari korban yang cedera dan jera pada pra dan paska Tsunami serta jiwa jiwa para penguasa yang tengah berseteru memperebutkan dan meributkan donasi untuk dan atas nama bencana ini '.
'Maafkan aku ya Rabb.. kalau aku tengah terobsesi oleh semua musykilah dikehidupan ini, aku tengah mencoba mengurai benang yang semerawut, mencoba memulai sebuah permulaan dari kerusakan total yang tak tahu dari mana memulai '.
'Siapapun boleh tertawa dan memperolok kami akan kecilnya kami ini, namun senantiasalah engakau curahkanlah istiqomah dan ketegaran seperti janjimu ya Rabb bahwa sekecil apapun kerja kami kami cuma mengharap ridhoMu ' .
'Sekali lagi ya Rabb maafkan..kalau aku tengah melupkan kahadiranmu yang sesungguhnya kunanti, jenggala hatiku tengah merantau jauh ke tanah rencong hingga aku melupakanmu'. Sepertinya alam memahfumi gundahnya rasa datarku serta obsessiku kali ini.
Mestinya... Laku aku sering mendera diri sendiri, 'Aku sendiri tak tahu kenapa aku ada disini, kenapa aku duduk disini, sedang mereka mendambakan kehadiranku, seperti juga aku merinukan mereka ? "Kenapa aku tidak bersama mereka duduk bersimpuh menikmati wajah mereka, bertutur dan melerai duka mereka, membelai rambut dan bahu mereka, mengisaratkan cinta, menggantikan ibu ibu mereka, mendongeng dan membesarkan hati hati mereka".
Lalu aku tersentak sadar...'Oya anakku aku dan kami tengah mengisi pundi-pundi hingga penuh lalu kami bawa kenegerimu...dan itulah tugas kami..mengetuk penggalan para pemilik hati yang masih menyisakan asa peduli buat kalian.
Lalu? Tentu saja tugas berat kami adalah mayakinkan bahwa pundi pundi yang mereka isi sampai seratus persen ketanganmu tanpa potonga
n dan sunatan sana sini.Kami paham kalau syak dan prasangka berlabuh dihati mereka karena budaya pat gulipat tengah melekat atau sebaliknya pat gulipat terjadi karena adanya dana dan sumber daya sap dilempar yang tentu dengan syarat.
Lalu ingin kukatakan 'Bahwa duka laramu mu telah merobek dan meremas relung hati kami, dan mereka tidak sendiri sama seperti dibelahan dian lainnya Afghan , Aljazir, Kosovo, Bosnia, Iraq, Rumania hingga Chechya. Merka tidak tahu kalau kehadiran mereka didunia justru untuk menguji keimanan kami kami ini, malah membuat kami tergerak hingga kami membentuk jamaah, sirkel dan bahkan yayasan.
Anakku jangan kau sesali akan keyatimanmu namun bersyukurlah justru karena kehadiranmu, kami menyandarkan harapan untuk bisa bersama Rsasulullah ke emperan syurga dan bahwa kehadiran kalian memang Allah ciptakan hingga kiamat enkau pembawa rakhmat untuk kami kami ini.
Lalu aku tersentak sadar...'Oya anakku aku dan kami tengah mengisi pundi-pundi hinga penuh lalu kami bawa dan itulkah memang peran dan tugas kami'
Ahhh hati kami jadi kecut..mungkin hanya emperannyapun jadilah - kerna kadang hati kami terpoles oleh duniya oleh bisik syahdu yang kadang kami tergelincir oleh lolosnya hembusan asyik menggoda. Tapi anakku syurga itu..tidak semudah dan semurah yang seperti Rasulullah isaratkan dengan kedua jarinya, tidak...terlalu mahal
Teramat mahal harganya dan teramat berat ujian dan cobaan bahkan kami bisa jadi berseteru dan bahkan berpisah karena engkau.Ini tidak mustahil anakku.
Anakku doamulah yang kunanti agar kami kami tetap teguh dan tegar untuk sanggup menerjang dan menerjal jurang dan karan yang tajam.
Maafkan ya Raab akan kealpaaanku kali ini ku tak mampu jadi pujangga memuji dan memuja serta pendaran keranuman wangimu .
London 24 April 2005