Bunda Jangan Pulang
Pagi itu kami temui bocah bocah di SD Min Lhoong.
untuk mengucap selamat jalan. Lalu kami minta mereka berSelawat,
dua, tiga kali lalu berTakbir dan berfoto disekolah darurat mereka,
didepan tenda tenda pengungsi, berwarna biru dan putih.
‘Bunda jangan pulang, bunda janji kembali lagi..’ mereka melepas kami
mereka merengkuh tangan lalu disentuhkan dikening mereka, tanda takzim
Lalu mereka berjanji untuk giat belajar, tidak akan nakal dan
menggosok gigi sebelum tidur.
Wajah wajah hanief dan sholeh menyembul dibalik lilitan jilbab berenda
Mereka yang bermata hijau konon ada percikan darah Purtugis,
yang kelam mungkin turunan Tamil, beberapa nampak seperti Yamani
atau Pakistan atau yang murni, ya murni Melayu,
lembut dan santun. Itulah anak anak Aceh.
***
Dengan berat hati dan perasaan nekad, kami tinggalkan Lhoong
kami harus ke Banda Aceh, sore itu juga, malam itu juga.
Kami berharap sang helikopter berkenan menerbangkan kami ke Banda
namun yang pertama, tentara Jerman yang salah mendarat, salah lokasi
dikira Lokhsmawe..ternyata Lhoong. Kami tak terbawa.
Beberapa heli menderu diudara, tapi mereka cuma lewat.
Tiba tiba Heli lain nampak ....oh dia mencoba turun, menukik,
membuat hati berbunga penuh harap. Yang ini bermotif loreng,
hijau coklat seragam Tentara. Heli mendarat .Kami yang duduk
terpental oleh kencangnya sang baling baling dan putaran kincir.
Wajah kuning bermata sipit turun menunduk menurunkan puluhan doos
berisi panci dan kuali aluminium buat pengungsi. Ditimbun dan disusun.
Kami dekati...mereka tentara Jepang atau Nipon, ada bulatan merah
diatas kain putih, dilengannya, merekapun berseragam loreng hijau..
Sang kincir terhenti, pengungsi mengunjal dan mengangkutnya ke gudang
Lalu kamipun meminta lagi kalau kalau bisa angkut kami ke Banda.
'No' sambil geleng geleng kepala. Kami ditolak lagi. Aku sebel dan kecewa.
Sang co-pilot sibuk mengeker sana sini, jepret sana dan sini.
Mungkin terperangah penuh pesona dengan cantiknya bukit2 Lhoong
Dibanding dengan negerinya yang super sempit dan klastrofobik.
***
Sambil bingung penuh harap kami duduk kembali dikedai kopi.
'Ibu..minta kopi dua ya' pintaku. 'tubruk atau saring? tanya si ibu.
'Saring bu...' kataku. Sang ibu menyiduk sang bubuk ke kuali kecil
lalu disiram, direbus dan disaring berkali kali, baru dituang ke gelas.
Aneh. Kali ini aku tak bisa menikmati kopi Aceh yang masyhur sedap.
Benakku gusar ingin balik ke Bandara sore itu dan harus malam itu.
' Teteh jangan pulang malam ini, ombak tinggi, anginnya kencang.
lewat daratpun berbahaya, apalagi lewat bukit dan gunung'.
Aku tetap menggeleng kepala dan meyakinkan tidak apa apa.
Bang Nash, adik pak Camat terpaksa mencari sopir spit untuk mengayuh
ke Bandara sore itu, kamipun beranjak ke kepantai...
Baju pelampung warna oranye terang kami kenakan, speedboat putih
tak beratap kami naiki, tiga duduk didepan, tiga ditengah dan
tiga dibelakang, satu kapitan dan asisten, dipaling belakang.
Semburat jingga senja, kekuningan memantul kelaut. Maghrib diambang.
Dari beberapa pohon nyiur yang tersisa ingin berceloteh, berteriak padaku,
' Kamilah yang tersisa, yang tegar dan mampu membendung Tsunami..teteh!
‘Kami menyaksikan semuanya, tanyalah kami'. Aku mengangguk setuju.
Tentu kalau mereka mampu bicara, merekapun akan berlomba bertutur padaku.
Diantara mereka ada satu yang miring dan merunduk sendu...sang pokok dan
daunnya hampir terjurai kelaut...
Atau puing puing dermaga, jembatan beton, kawat, pipa besi, kayu, bambu,
akar dan pokok yang tumbang, lembar dan gulungan seng berkarat terlempar
terhempas angin. Mereka tak berarti, tak mampu melindungi pemiliknya
bahkan merekapun korban musibah. Kuyakin mereka menangis ingin bercerita
sebagai saksi tentang Tsunami yang dahsyat dan beringas.
Aku menoleh kebelakang...uhhh pilu hatiku, rata... tak tersisa, bongkah aspal
menganga atau akar pepohonan yang tumbang, terjungkal. Sungguh gundah
Lalu aku menenggak keatas bukit...hatiku mulai luluh, anak anak yang kutinggal
anak anak yang ratusan dari balita hingga remaja, menanti dan menggantung
harapan pada kita kita, dan teriak mereka tetap terekam dan akan kuperam:
'Bunda jangan pulang...bunda kembali lagi...’ lalu mereka melambaikan tangannya.
Pantulan mata mereka meninggalkan banyak pesan dan harap.
***
Aku terhenyak. Motor perahu spit mengerang, asap solar merebak, perahu melaju,
kian kencang melaju, membelahmbak.. percikan air laut menerpa wajah.
Lhoong kami tinggalkan.. dengan penggalan kenangan mengiris namun manis
Mentari senja kini menyelinap dibalik awan, masuk peraduan,
kini tergantikan oleh rona rembulan - membututi kami.
Kami meluncur dibawah terangnya simolek rembulan.
Perjalanan ini terlalu nekad dan penuh petualangan memang.
Detik dan menit kuhitung - aku menunduk dan terdiam sambil
menahan percikan bulir bulir air laut, curhan air hujan
Sambil berbisik dengan wiridan...Ya Allah sebrangkan kami
dengan selamat...ke Banda
Tiba tiba sang motor terhenti, perahu berputar ditiup angin dan ombak
Kami saling memandang dan tesenyum dan menghibur diri
'Tidak lama lagi kita sampai di Lok Nga' huh hatipun lega
Sang sopir meraba dan menduga tepian pantai LokNga. Gelap pekat.
Sesekali kami lihat gundukan hitam lewat dari kejauhan, entah flipper,
entah kayu kayu hanyut, entah sang mayat....aku tetap terdiam.
Dari jauh tampak sebuah gedung dengan terangnya yang ribuan watt,
'Itu kapal Induk Perancis' kata mereka.Betapa megahnya.
‘Ahhh ini Lok Nga’ Sang perahu merapat ketepian tali dililitkan
pada kayu pepohonan kering yang ada. Kamipun loncat bersama ransel..
lalu mendaki bukit berpasir. Saat kami diatas....subhanallah sepertinya
kami berada di padang pasir, tersasar. Rata, gelap penuh puing puing
dan pepohonan yang tumbang, yang malang dan melintang.
Lama kami menanti di pos TNI akhirnya kijang bak menjemput kami.
Saat kami tiba di pemondokan..seseorang menyambut
'Ya Allah teteh kau masih hidup...tiga hari kami mencarimu,
kau menghilang tiga hari '. Kami berpelukan erat.
sementara sayup lamat pesan mereka tetap terdengar
'Bunda jangan pulang, bunda janji kembali lagi..'
Banda Aceh, 17 Februari 2005