alshahidaAssalamualaikum wr wb Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
|
 |
Sunday, July 24, 2005
Ya Rabb maafkan daku kalau cintaku sempat memudar. Ampuni daku kalau cintaku sempat surut, sempat minipis terkikis oleh nuansa kebebasan, sekulersime, liberalisme materialisme dan langkanya nuansa Islami.
Aku bagai sebuah lilin terbakar oleh apinya sendiri, kedasar. Alas kakiku terlepas hingga begitu mudahnya aku tergelincir basyirah dan naluri tauhidku luruh terdismantel kala kita jadi minoritas disuatu negeri. Hingga suatu hari kami terlempar di keterjalannya karang hingga kami terhempas oleh gemuruh gelegarnya gedung oleh sebuah rekayasa teknologi yang biasnya kami dapati hingga kami, aku, kita terlindas oleh roda roda kenistaan.
***
Dulu kami mencoba menata misi Muhibbah. Jalanan kami telusuri mulai dari Dover, Belgia, Humberg, Austria, Croatia dan berakhir di Mostar di Timur Eropa, sekedar menebar rasa cinta dan empati untuk saudara kami yang terkapar tak berdaya. Lanjut kuarungi bahari luas ke gugusan pulau-pulau seribu.
Kutelusuri lorong lorong gelap pengap, diiringi bau anyir lalu ke dibukit-bukit, desa-desa dan kotakota hingga tiba dibatas antara dua komunitas bersama unggunan karung karung berisi pasir dan moncong senjata siap menyembur setiap saat.
Disana...kutemui pemilik piala hati para janda syuhada bersama ribuan yatim terlantar yang duka laranya diredam oleh media untuk dan atas nama stabilitas negeri. Yang Izzah Islam mereka diinjak dan dicabik atau tercabik oleh sebuah agenda keji durjana tak terperikan yang konon diatas namakan kecemburun sosial hingga dua komunitas berseteru saling memburu nyawa padahal politik kejilah memoles semua agenda ini.
Semua ini telah membuat kami terpana, bangkit dan tergugah akan tragedi dan nista akan dosa yang lalai dan terlena oleh dan atas nama toleran, kerukunan dan silodaritas hingga menyisakan demarkasi dan batas dari dua komunitas dari tiada, kini ada.
Dibelahan barat Engkau telah tunjukan kebesaranMu dengan meluluh lantakan lewat gempa dahsyat, seiring dengan Tsunami-Mu disuatu Dhuha dalam kurun satu jam. Kau tunjukan murkaMu sekaligus cintaMu untukku, kami yang lalai, terlena dan larut oleh fatamorgana duniya akan keserakahan, kedzaliman selama setengah abad.
Darinya terlahir rasa cinta ukhuwah dan empati kami untuk menyampaikan peduli yang selama ini kami peram membiarkan jerit tangis dan duka lara mereka.
Ya Rabbb ampunilah kami. " Maka dengan nikmatNya kamu menjadi bersaudara " (Al-Imron :103)
Dari semua kemelut dan tragedi dijagat raya ini membuatku tersadar, Lalu kubertandang kesetiap sudut sudut hati derita para korban Disana....kutemukan Cintaku, disana kutemukan cinta hakiki
yang sempat menipis dan pudar, disana kutemukan kebesarnaMu Hai Pemilik Cinta kembalikan cintaku, kembalikan cintaku sematkan kembali kedadaku, semaikan kembali ke qalbuku, semi-kan kembali ke lubuk lahan hatiku.
***
Kala kudengar namamu ya Kekasih, denyut nadiku berlari, Kala kusebut namaMu seolah tulang sekujur tubuh luluh bersit cinta itu membias pada relung lekuk hatiku. Lalu dimalam kelam temaram, kala kurebahkan tubuhku dengan lembut syahdu kesebut namaMu, kubisikan penuh mesra Kuberjanji ku ta'kan menduakan Engkau dengan selainnya Engkau yang Esa, Engkau yang Maha Rahim dan Karim.
Ya Rabb kuserahkan semua hatiku, kaffah dan totalitas.
"Islam itu ialah penyerahan hatimu kepada Allah dan selamatnya kaum Muslim dari lidah dan tanganmu"
London, 30 Juni 2005
Posted at 03:49 am by alshahida
Permalink
|