Anakku tahukah kalau hari ini adalah Hari Anak Nasional ? Adakah makna dan manfaat buat kalian sebagai anak dinegeri ini ? Tahukah kalian dilindungi secara global oleh konvesi anak-anak dibawah persekutuan bangsa bangsa dengan nomor 36/1991 hak kalian untuk hidup, tumbuh berkembang, perlindungan dan berpartisipasi di Republik ini ?
Tahun silam ada berbagai lomba, menggambar, mengarang, tulis surat buat presiden, kumpul dibundaran atau pesta seni atau melanglang ke taman impian atau ke taman Marzuki atau lainnya sebagai imingan untuk melipur. Bagaiman tahun ini?
Kalian tulis surat dan memohon apa pada bapak Presiden, atau kepada Menteri Pendidikan, Menteri Peranan Wanita dan Menteri Tenaga Kerja? Minta naik gaji, libur atau lembur ?
Kewajiban Belajar
Bukankah hadiah Hari kalian berupa bebasnya kalian dari bayar SPP, atau dana Pembangunan, atau Dana Komite Sekolah, uang ujian, uang semester, uang test, uang wisata atau urunan dan seratus satu macam dana. Lalu aparat patroli kerumah-rumah kalian mewajibkan kesekolah dari usia 6 hingga 18, setidaknya es-em-u. Hingga kalian tak lagi mengenal kata kata putus sekolah, drop out, hingga kalian tidak lagi jadi suatu anak bangsa yang bebal. Ohh...mungkin ini khayal dan impian belaka.
Anakku.....
Sesungguhnya partisipasimu telah banyak untuk: menyemarakan jalanan, mengisi kolong kolong jambatan dijalan-jalan tol sepanjang ibukota, atau menyamar jadi pengemis yang dieksploitasi oleh sindikat, atau membabu dirumah tangga, atau mengusung minuman dan peremen, atau koran majalah.
Atau mengusung kotak sumbangan dilorong lorong pasar dan kedai. ahhh... kalian bagai anai-anai bertebar dan terbang dimana mana dari pasar Tanah Abang, Mayestik, Block-M, Pasar Senen, Gambir Jatinegara atau di plaza plaza mewah hingga dipasar becek.
Kau nampak bermandikan keringat diteriknya mentari ibukota, berdiri diantara kepulan asap serta desingan mesin mesin bajaj, bemo, kopaja, ojeg, ratusan kijang, Volvo, BabyBenz, BMW bahkan yang termewah Roll Royce-pun.
Kehadiranmu dijalanan kerap melahirkan rasa hiba, empati, serasa hati ini diremas ..hingga ide dan inspirasi berdatanganuntuk membentuk el es em oleh mereka yang peduli sosialnya peka hingga sanggar dan tim tim kecil yang berupaya mementaskan derita dhuafamu yang miskin papa.
Kontradiksi dan kuffur nikmat
Atau sebaliknya, mereka yang lalu lalang yang bermobilkan berwarna metalik keren hingga pantulnya menyilaukan mata. Mereka pekat gelapkan kaca jendela mobilnya hingga kalian tak tahu siapa didalam mobil itu, pejabatkah, anggota de-pe-er-kah, konglemaratkah...hingga osongan dagangan dan kurus keringnya tubuh kalian tak nampak oleh mata hati mereka.
Sepertinya hati merekapun jadi kelam dan pekat sekelam dan sepekat kaca jendela mobil mereka. Sepertinya nurani mereka terselimuti oleh selaput subhat karena qalbu-qalbu itu telah teraliri oleh yang haram, terbaluti materialisme, hingga ketama'an itu bermuara berupa kekuasaan yang melenakan.
Sesungguhnya sebelum itu mereka hidup bermewah mewah ...... (QS 56:45)
Belitan kemiskinan diibukota kian melilit dikehidupan kalian. Jeratan hutang kian mencekik leher, hutang pada tukang sayur, warung, tetangga. Sirkulasi hutangpun berputar terus tak berujung. Hingga tak ada lagi tempat berhutang, hingga ada yang makan remah sisa sisa dari restoran atau apa saja yang mengganjal perut, kadang melongok ke tong-tong sampah berharap ada sisa hingga busung lapar terjadi dinegeri yang konon kaya dan subur.
Sementara anak negeri yang duduk bersidang dan berdebat yang konon duduknya mereka mengatas namakan kalian, menuntut naik gaji atau honor demi kelancaran kerja. Aiih...sangat lucu, fasilitas rumah instansi, mobil, bensin, gas, air semua rekening kalianlah yang menaggung dan melunasinya. Masih tak cukup.
Pernahkan kalian kirim mereka untuk melanglang dunia dengan dalih untuk study banding, umroh, haji pun sebagai hadiah dari kalian. Anakku bukankah itu namanya kuffur nikmat?
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,...... (QS. 4:58)
***
Anakku tahukah kalau jahiliyah itu tengah kambuh kembali melanda dan menyelimuti ummat manusia terutama dinegeri kita. Kita tengah dilanda suatu kegelapan nan pekat. Kegelapan jahiliyah diabad keduapuluh satu ini yang pekatnya lebih tebal dari pada jahiliyah pertama yang menyamar dalam busana ilmu pengetahuan dan kepongahan, itulah materialisme.
Harapan...
Entah kemana kalian menyandarkan harapan hari esok Bahu bahu siapa yang 'kan bersedia menyanggah kepala serta tangis dan derita kalian yang tak berkesudahan. Tangan dan lengan siapakah yang 'kan merengkuh ‘tuk mengusap jerit dan duka lara kalian. Tentu kau bertanya balik padaku " Kau bunda telah berbuat apa untuk kami yang terkapar dan terdampar tak berdaya?" Bunda jawabnya apa? " Tak tahu anakku...'
Sudahlan anakku.. izinkan bunda menangis dan menangisi nasib kalian, biarkan air mata ini berderai 'tuk merelai duka dan tak berdayanya aku. Esok...kalau kesenduan ini sirna, bunda kan datang berceloteh dengan dongeng dan peri atau berseloroh hingga kau lupa hari-hari lalumu.
London, 23 Juli 2005
al_shahida@yahoo.com
catatan: oretan ini terinspirasi oleh lagunya Ronan Keating 'If there is no tomorrow' yang juga inspirasi akan lahirnya ICR pada tahun 2002