Hari ini..benakku datar dan kebal rasa, futur melandaku.
Kubosan dan jera dengan khayal dan mimpi dan bayangan
adanya suatu keadilan, bosan kepada mereka yang berjanji.
Tapi asa itu masih belum putus.
Hari ini aku menyepi dari teriakan dan hentakan kaki serdadu
dan pekik bermacam pekik untuk mengerek sang bendera,
dan sumpah dilapangan hijau Wisma Nusantara, London,
dengan berbagai atraksi, tembang atau liukan dangdut
dari suara seduktif setengah telanjang. (tahun lalu begitu)
Dan bukan sebuah dosa kalau aku tidak berjanji dibawah
kibaran sang merah putih dan bersumpah dibawah
naungan burung garuda dan apalagi bersumpah pula
kalau Pancasila adalah idiologiku. Hari ini.
Kerna kutahu semua itu telah banyak dikhianati
banyak disalah manfaati oleh mereka 'anak negeri'
yang kalian pernah pilih dan vote, mewakili kalian.
Karena kutahu nurani mereka telah mengkristal
beku dan membatu...hingga negeri ini digadekan.
Dan mereka tak peduli, mereka tak mau tahu.
Karena kita terwarisi kemiskinan dan kebodohan
dari sang penjajah dulu. Itu yang tersisa, anakku.
Dan kutahu kalau mantan penjajahpun masih tak sudi
melepas Nusantara kita. Hutang bayar pampasan belum
lagi terlunasi jangankan minta hampura dan maaf.
Anakku..kalian masih belum merdeka dari tindasan
kedzaliman, kalian masih belum bebas dari segalanya.
Maafkan anakku...
****
Dan kutahu semua lomba dan atraksi di hari kemerdekaan ini
melulu untuk merelai dukamu, imingan dan hiburan semu belaka.
Karena mereka adalah aktor dan pemain terulung didunia.
Yang murni dan jujur mereka masuk kotak es atau terdampar
dibalik jeruji besi...hingga takdir datang.
Teruskan dan be survive ..kendati kalian tertatih tatih jalan, teruskan.
Kita butuh satu abad, jadi enam puluh tahun baru separuh
Perjalanan masih jauh...
Bundamu dinegeri seberang
dipagi nan sejuk.
London, 17 Agustus 2005