Assalamualaikum wr wb
Buat semua sahabat di icmi, icmi eropa, kibar, al-ikhlas, insistnet
Alhamdulillah saya baik baik saja, walau kepanasan, kedebuan dan sumuknya subhanallah tapi ya sehat dan baru saja bisa keluar setelah di peram lama di kacamatan Lhoong, Aceh.
Lhoong...kira kira 52 kilo dari Banda Aceh dan alhamdulillah sekarang bisa dicapai dengan mobil makan waktu 1 1/2 jam. Banyak jalan yang hilang dan rusak serta jambatan yang juga hancur bahkan ada yang tersisa di tengah laut....sungguh dahsyat sekali. Jalanan konon dibiat oleh TNI bekerja sama dengan Oom Said..maksudku USAID van Amerika, sedang Toilet dan kamar mandi dibuat atau di bantu oleh Oxfam dengan warna hijau pupus menyolok.
Saya sungguh banyak terperangah melihat kecantikan alam Aceh..sepanjang jalan mulai dari Lhok Nga lalu kita lewat desa desa yang hancur dan rata bahkan terendam air namun sungguh kontras dengan pemandangannya - ada 2/3 gunung harus kita lewati menuju Lhoong hingga sering si abang sopir untuk berhenti seketika atau mundur kembali unutk menjepret sang view.
Luar biasa - mengagumkan - dan hingga di Lhoong itu sendiri - kami tidak salah kalau memilih Lhoong - wiiiss pokoknya tidak menyesal.
Jadinya hati terhibur oleh keindahan alam ini sedang menyaksikan kerusakan kita sungguh bingung..kapan dan bagaimana kita harus memulai.
International NGO-nya ada 8/9 yang aktif di Lhoong, kantor ICR bertetangga dengan Ngo Perancis berjudul Trianggle, aktif bantu komputer, mesin jahit, sepeda dan mentraining ibu ibu untuk belajar masak dan bikin kue. Obor Indonesia masih aktif di klinik, sementara CWS kasih sumbangan merehab rumah bidan..oya World Vision banyak bantu ribuan unit rumah Barak, konon mereka sudah komit untuk tinggal 10 tahun di Lhoong...10 tahun? Juga dari Australia dengan Green Handnya atau Mamma Mia dari Italy...pokoknya lengakap..dan saya tidak heran kalau semua dan banyak Ngo tertarik dengan Lhoong..yeeep punya potensi tinggi sekali.
Air minum..subhanallah dikasih free yang disumbangkan oleh Dian Desa yang airnya diambil dari mata air yang melimpah ruah dari gunung dan bukit lalu dioleh oleh lsm ini, diberikan begitu saja kepada penduduk. Tapi air untuk mandi sangat terbatas berhubung lampunya cuma dapat jatah dari jam 6 sore hingga jam 12 malam - so kalau mau ke Lhoong jangan lupa bawa lampu senter, lilin dan korek api dan payung.
Beraaaas..juga free,tidak kudu bayar..tapi ya harus dicuci bersih karena banyak kutunya
Kemarin kami resmikan Rumah Yatim Sementara dengan judul 'Gampong Aneuk Shaleh' dihadiri oleh pejabat seperti pak Camat, para kecik, teungku,kepala desa dan para wali dimeriahkan dengan tarian Sedati yang dipegarakan oleh gadis cilik Aceh yang subhanallah cuanti cuantiknya tuhh aneuk Aceh. Baru ada terkumpul sekitar 30-an..ternyata tidak semudah yang kita kira untuk mengumpulkan mereka, untuk tinggal ditempat yang kita tawarkan. Targetnya 50 anak dulu - baru dikembangkan.
Projek besar lainnya masih dalam proses.
Saat saya gali cerita dan pengalaman mereka ttg Tsunami...eh tiba tiba si cilik Ria..usai cerita dia menangis, rupanya ingat Mama Papanya. Saat Eva cerita pengalamannya..Iiiih takut...takut..udah..udaaaah! Padahal Ria paling ramah, murah senyum dan mesra anaknya, penuh curiosity, sungguh dia membutuhkan kasih sayang..sehingga kalau saya datang kerumah mereka Ria selalu menyambut...Bundaaaa...! Dikejar, lalu dipeluk dan ciuminya saya dengan manja..kedua orang tuanynya hilang ditelan Tsunami. Ya sudahlah sekacamatan saya dipanggil 'Bunda...'
Tadi malam dia minta diajari lagu Inggris, lalu saya kasih engan judul 'Twinkle twinkle little stars'...' Bnda di Indonesiakan dong nulisnya biar Ria bisa baca...' lalu dia tirukan si lagu.
Perubahan...
Banyak perubahan di Banda Aceh dan sekitarnya, dari segi fisik, banyak orang nekad untuk membangun kembali rumah dengan sederhana ditanah lamanya..kerusakan masih jauh untuk dimulai. Sementara korupsi juga tetap berjalan seperti dana makan harian yang seyogyanya setiap jiwa menerima Rp93 ribu...hampir tak sampai atau kalau sampai cuma 40%.
Untuk merubah agama mereka secara drastis agama orang Aceh tidak mungkin apalagi resistance mereka cukup kuat, namun ada beberapa ngo yang berusaha keras untuk memasukkan mata pelajaran atau subject pluralisme di Aceh. Aneeh bukan? Gimana? Ya lewat buku cerita untuk anak anak, yang mereka sumbangkan dimana mana..begitu mereka sadar ya sudah mereka sisihkan saja.
Yeeep.. pelan dan pasti frame work, cara pola fikir saudaraku telah dirubah, mereka jadi materialist, semua jadi mata duitan, apalagi dengan kedatangan international semua jadi melonjak karena mereka berani bayar berapapun dibanding dengan dollar atau poundsterling.
Pekerjaan tidak ada...perjalanan masih jauh.
Soal kemanan...konon seumur mereka ingat baru ini masyarakat merasaakan aman dan tentram, bisa jalan dimalam hari, tidak takut menerima kunjungan 'intruder' ditengah malam menggedor pintu minta duit atau beras atau apa saja untuk survive dan dari siapapun..jadi intinya masyarakat Aceh sangat menyambut ide perdamaian dengan MOU yang dilakukan Helsinki...apapun risikonya dan agenda lainnya dibelakang semua ini.
Jadi mereka yang orang Aceh mengalami, menderita, merasakan pahit getir dan deritanya selama in the last 60 years..dan mereka tak peduli dengan pendapat atau komentar dari luar terutama yang tidak setuju ---karena selama ini banyak diantara kita yang tidak mau tahu, tidak tahu..sehingga sepertinya Aceh daerah yang angker dan tabu untuk dibicarakan dan disentuh. They know better than us.
Itulah Aceh dengan segala keunikan dan kejanggalan yang tidak kita temukan ditempat lain.
Wahhh panjang sekali si teteh cerita..kusudahi dulu ya..mau ke Bandara niih. Salaam kangen dari Aceh..
wassalam, teteh
Banda Aceh 13 September 2005